RADARTUBAN- Gejala seperti bersin, batuk, dan pilek kerap kali diasosiasikan dengan flu.
Namun, tahukah Anda bahwa keluhan tersebut bisa jadi merupakan tanda alergi?
Kesalahan dalam mengenali penyebabnya bisa berdampak pada pengobatan yang tidak tepat.
Menurut Dr. apt. Lusy Noviani, M.M, Kepala Program Studi Farmasi di Sekolah Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atmajaya, masyarakat perlu memahami bahwa flu dan alergi memiliki gejala yang mirip tetapi penyebab dan penanganannya berbeda.
"Flu berasal dari infeksi virus yang umumnya disertai demam, pegal linu, dan rasa lelah. Berbeda dengan alergi yang bukan penyakit menular dan tidak menyebabkan demam, tetapi ditandai dengan bersin berulang, hidung berair atau tersumbat, serta mata gatal dan berair," ungkapnya.
Gejala alergi umumnya muncul saat seseorang terpapar alergen seperti debu, serbuk sari, bulu hewan, atau makanan tertentu.
Selama pemicu tersebut masih ada, gejala dapat berlangsung lebih lama dibanding flu yang biasanya reda dalam lima hingga tujuh hari.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang langsung membeli obat flu ketika mengalami gejala ringan tanpa berkonsultasi.
Padahal, pengobatan yang salah justru bisa memperparah kondisi, terutama bila penyebab utamanya adalah alergi.
Obat flu biasanya mengandung dekongestan dan pereda nyeri, sementara obat alergi mengandalkan antihistamin.
Penggunaan dekongestan dalam jangka panjang tanpa indikasi yang jelas dapat memperburuk gejala alergi.
"Kami sering menemukan pasien yang tidak kunjung sembuh setelah minum obat flu, dan setelah diperiksa ternyata mereka memiliki riwayat alergi. Hal ini menunjukkan pentingnya peran apoteker sebagai pihak pertama yang memberikan edukasi dan panduan pengobatan yang tepat," tambah Lusy.
Dalam upaya meningkatkan pemahaman ini, Opella Healthcare Indonesia melalui ajang Indonesia Pharmacy Expo & Conference (IPEC), menggandeng SwipeRx dalam kerja sama edukasi berkelanjutan.
Kolaborasi ini sudah berlangsung selama tiga tahun dan berfokus pada peningkatan kapasitas apoteker.
"Kami ingin memperkuat peran apoteker dalam sistem kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah dengan membekali mereka informasi yang akurat untuk membedakan kondisi seperti flu dan alergi," jelas Midha Mulyaningrum, Country Head Opella Healthcare Indonesia.
Salah satu isu utama yang diangkat dalam kegiatan ini adalah rinitis alergi—kondisi yang sering disalahartikan sebagai flu biasa.
Kurangnya pengetahuan menyebabkan masyarakat keliru dalam penanganan.
Apoteker, yang sering menjadi titik kontak pertama bagi masyarakat dalam mengakses obat-obatan, memiliki peran penting dalam menyaring kasus yang memerlukan perawatan mandiri atau rujukan ke dokter.
Dengan edukasi dan komunikasi yang tepat antara apoteker dan pasien, risiko salah penggunaan obat bisa diminimalkan.
Edukasi ini menjadi kunci untuk membangun masyarakat yang lebih sadar dan cermat dalam menjaga kesehatannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni