Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Varian Baru NB.1.8.1 Picu Lonjakan Kasus COVID 19 Global, WHO Tingkatkan Pemantauan

Nadia Nafifin • Senin, 2 Juni 2025 | 20:40 WIB
Ilustrasi wabah virus.
Ilustrasi wabah virus.

RADARTUBAN- Kasus COVID 19 kembali menunjukkan tren peningkatan seiring dengan kemunculan varian baru NB.1.8.1 di sejumlah negara.

Pada Rabu (29/5), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lonjakan kasus terutama terjadi di kawasan Pasifik Barat, Amerika, Eropa, dan Asia Tenggara.

Per 18 Mei 2025, tercatat 518 sekuens varian NB.1.8.1 telah dikirimkan ke basis data GISAID oleh 22 negara, mencakup 10,7 persen dari total sekuens global pada minggu epidemiologi ke-17 tahun 2025.

Angka ini meningkat cukup tajam dari 2,5 persen pada minggu ke-14 (31 Maret–6 April 2025).

Meski begitu, vaksin COVID-19 yang tersedia saat ini masih diperkirakan ampuh dalam mencegah gejala dan kasus berat akibat varian tersebut.

"NB.1.8.1 telah ditetapkan sebagai varian SARS-CoV-2 yang sedang dipantau (variant under monitoring/VUM), dengan proporsinya yang terus meningkat secara global, sementara varian LP.8.1 mulai mengalami penurunan," demikian pernyataan resmi WHO, dikutip Senin (2/6).

Walaupun beberapa negara mengalami lonjakan kasus dan peningkatan angka rawat inap akibat varian NB.1.8.1, data terkini belum menunjukkan bahwa varian ini menimbulkan gejala yang lebih parah dibandingkan varian COVID-19 lainnya yang masih beredar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut varian NB.1.8.1 merupakan turunan dari varian rekombinan XDV.1.5.1.

Varian ini termasuk dalam enam variant under monitoring (VUM) yang saat ini sedang diawasi secara global, dan resmi masuk daftar VUM pada 23 Mei 2025.

Dibandingkan varian dominan saat ini, yaitu LP.8.1, NB.1.8.1 memiliki sejumlah mutasi tambahan pada protein spike, seperti T22N, F59S, G184S, A435S, V445H, dan T478I.

Bila dibandingkan dengan varian JN.1, varian ini juga membawa mutasi T22N, F59S, G184S, A435S, L455S, F456L, T478I, dan Q493E.

Mutasi-mutasi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi penularan, kekebalan, hingga efektivitas pengobatan dan vaksin.

Namun, WHO belum menyatakan varian ini sebagai varian yang lebih berbahaya.

"Mutasi spike pada posisi 445 diketahui meningkatkan afinitas pengikatan ke reseptor hACE2, yang dapat meningkatkan penularan varian ini. Mutasi pada posisi 435 diketahui mengurangi efektivitas antibodi kelas 1 dan kelas 1/4. Sementara itu, mutasi pada posisi 478 diketahui dapat meningkatkan kemampuan varian ini menghindari antibodi kelas 1/2," kata WHO.

"WHO dan Kelompok Penasihat Teknis tentang Komposisi Vaksin COVID-19 (TAG-CO-VAC) juga terus secara berkala menilai dampak varian terhadap kinerja vaksin COVID-19 untuk memberikan informasi dalam pengambilan keputusan tentang pembaruan komposisi vaksin," imbuh WHO.

WHO juga memperpanjang Rekomendasi Tetap IHR untuk COVID-19 hingga 30 April 2026, guna mendukung negara anggota dalam mengelola risiko pandemi selama masa transisi ke pengendalian penyakit yang lebih luas. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#covid 19 #varian #WHO #lonjakan kasus #vaksin