RADARTUBAN- Sekelompok wisatawan yang diduga berasal dari Indonesia menjadi sorotan di media sosial setelah terekam sedang menari di area Wat Paknam Bhasicharoen, sebuah kuil Buddha di Thailand.
Aksi mereka terekam dalam video berdurasi 40 detik yang viral di media sosial sejak Senin, 2 Juni 2025.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh salah satu pengguna akun X pada (27/5), hingga kini video tersebut telah ditonton hingga satu juta kali.
Dalam keterangan unggahannya, akun tersebut menyebut bahwa para wisatawan berasal dari Indonesia.
Aksi joget para turis itu menuai kritik tajam dari warganet Thailand yang menganggap perilaku yang dilakukannya tersebut tidak menghormati tempat suci.
Salah satu komentar datang dari pengguna akun x di media sosial, menyoroti pakaian para turis yang dianggap tidak pantas.
Selain itu, sikap mereka yang tidak menunjukkan rasa hormat terhadap area sakral, dan mengingatkan bahwa tempat suci seharusnya dijaga kesunyiannya dan tindakan yang tidak pantas dapat merusak makna spiritual tempat tersebut.
Komentar lainnya juga muncul dari pengguna X lainya, yang menilai bahwa tindakan tersebut sangat sensitif secara budaya dan keagamaan.
Komentar tersebut juga menekankan bahwa respons serupa bisa muncul jika umat Buddha melakukan hal serupa di tempat ibadah agama lain, terutama jika dilakukan saat prosesi keagamaan sedang berlangsung.
Dalam video yang beredar, terlihat beberapa wanita sedang menari sambil direkam di area depan patung Buddha dan papan nama kuil.
Di sekitar lokasi, tampak sejumlah orang yang memperhatikan aksi mereka, baik dengan berdiri maupun duduk dalam kelompok.
Berdasarkan informasi dari situs YourThaiGuide, Wat Paknam Bhasicharoen adalah kuil Buddha berstatus kerajaan kelas tiga yang terletak di distrik Phasi Charoen, Bangkok.
Kuil ini juga merupakan kompleks besar yang berada di tepi sungai Chao Phraya, dengan luas mencapai 32.000 meter persegi.
Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan yang dibagi dengan jelas antara area tinggal untuk pendeta dan biarawati.
Wat Paknam dikenal luas dan mendapatkan dukungan penuh dari komunitas Buddhis yang berada di sekitarnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni