Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Meski Sudah Dilarang, Jemaah Haji Indonesia Selalu Bawa Zamzam Banyak Ketika Pulang dari Tanah Suci karena Alasan Ini

M. Afiqul Adib • Rabu, 18 Juni 2025 | 03:03 WIB
Budaya pulang haji dan air zamzam di kalangan jemaah tetap lestari meski sudah ada larangan.
Budaya pulang haji dan air zamzam di kalangan jemaah tetap lestari meski sudah ada larangan.

RADARTUBAN - Setiap musim haji, selain berita tentang cuaca panas ekstrem atau antrean panjang di Jamarat, ada satu berita yang hampir selalu muncul dan tak kalah konsisten: koper jemaah haji Indonesia dibongkar petugas karena kedapatan menyelundupkan air zamzam.

Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bahkan sudah mewanti-wanti secara resmi, lewat pengumuman dan imbauan berkali-kali. Isinya jelas: jangan masukkan air zamzam ke dalam koper bagasi!

Jika kedapatan, koper akan dibongkar paksa dan zamzam akan dikeluarkan.

Toh, nanti pas tiba di tanah air, para jemaah akan tetap dibagikan air zamzam resmi sebanyak lima liter di asrama haji.

Namun, larangan itu seolah tak cukup ampuh menahan hasrat jamaah untuk tetap menyisipkan satu dua botol zamzam ke dalam koper mereka.

Kenapa sih, masih ada saja yang nekat?

1. Budaya Sambutan Pulang Haji

Alasan pertama sangat Indonesia sekali: budaya nyuguhi tamu.

Di banyak daerah, ketika ada orang baru pulang haji, rumahnya akan ramai oleh tetangga, keluarga, dan rekan yang ingin bersilaturahmi sekaligus mengucap selamat.

Nah, dalam budaya ini, lazimnya tuan rumah akan menyuguhkan air zamzam dan kurma kepada tamu.

Air zamzam menjadi simbol kepulangan yang sah. Bukan haji mabrur rasanya kalau tidak bisa menyuguhkan zamzam langsung dari Arab.

Maka, lima liter air zamzam yang dibagikan pemerintah dianggap belum cukup, terutama jika tamunya satu RT.

Banyak jamaah merasa perlu “cadangan” zamzam tambahan agar semua tamu bisa kebagian. Maka diselipkanlah beberapa botol kecil ke dalam koper, meskipun tahu risikonya.

2. Oleh-Oleh Paling Khas dan Paling Murah

Mari kita jujur, zamzam adalah oleh-oleh paling khas, paling dicari, dan yang paling penting, gratis.

Kapan lagi bisa ngasih oleh-oleh yang suci, dipercaya penuh berkah, dan tidak perlu keluar biaya?

Jamaah juga merasa, mumpung sudah jauh-jauh sampai Mekah, ya sayang kalau pulang tangan kosong.

Oleh-oleh seperti sajadah atau kurma bisa dibeli di toko-toko Arab, tapi zamzam adalah air yang “bercerita”, air yang keluar dari tanah suci, penuh nilai simbolik dan spiritual.

Karena itu, membawa pulang zamzam dari Arab menjadi semacam "ritual sunah" yang tidak tertulis. Tidak membawa zamzam sendiri dianggap kurang afdal, meski sudah dibagikan lima liter resmi.

3. Anggapan Zamzam dari Arab Lebih Asli

Percaya atau tidak, masih banyak jamaah yang merasa bahwa zamzam yang mereka bawa sendiri dari Arab lebih asli, lebih afdal, dan lebih ‘ngalap berkah’ ketimbang yang dibagikan di Indonesia.

Meski secara teknis dan asal sumber sama, ada kesan psikologis yang membuat air zamzam dalam botol pribadi terasa lebih sakral.

Yah, pada intinya membawa zamzam dalam koper memang tidak dibenarkan secara aturan penerbangan dan prosedur haji, tapi dia tetap hidup sebagai bagian dari budaya, simbol, dan ekspresi kasih sayang jamaah kepada sanak keluarga di rumah.

Kalau pemerintah ingin larangan ini benar-benar efektif, mungkin bukan cuma larangannya yang diperkuat, tapi juga pendekatan budayanya.

Karena bagi sebagian jamaah, zamzam bukan sekadar air, tapi tanda cinta dari tanah suci. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#murah #Musim Haji #khas #budaya #koper #zamzam