RADARTUBAN- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menemui seorang warga bernama Irwansyah.
Dia mengaku kecewa usai warung kopinya dibongkar oleh Satpol PP Kabupaten Bekasi.
Irwansyah menyebut pembongkaran dilakukan atas perintah langsung dari pemerintah provinsi tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Irwansyah, cucu dari mantan Bupati Bekasi periode 1958–1960, merasa kehilangan karena warung tersebut berdiri di atas lahan keluarga yang diwariskan kepadanya.
Ia pun mengaku kecewa, mengingat selama ini ia merupakan pendukung setia Dedi Mulyadi dalam pemilihan.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Dedi dan Irwansyah tampak berdialog santai, bahkan sempat saling tertawa dan berpelukan.
Dedi menegaskan bahwa tidak ada persoalan pribadi dengan Irwansyah, dan bahwa langkah pembongkaran murni dilakukan untuk kepentingan penataan wilayah.
Menariknya, Irwansyah justru mendukung langkah penertiban bangunan liar lainnya yang masih berdiri di sepanjang saluran irigasi Jalan Kong Isah.
Ia berharap penataan dilakukan secara menyeluruh dan adil.
Sebagai bentuk apresiasi atas sikap terbuka Irwansyah, Dedi Mulyadi berjanji akan membantu merenovasi makam kakek Irwansyah, Bupati Nausan, dan mendukung Irwansyah kembali membuka usaha.
Dedi menjelaskan bahwa pembongkaran 50 bangunan liar di wilayah Kampung Gabus, Desa Srimukti, Tambun Utara.
Wilayah tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan lahan milik negara yang selama ini disalahgunakan, termasuk disewakan secara ilegal dengan harga tinggi.
Ia mengakui bahwa kebijakan tersebut tidak mudah dan bisa melukai sebagian warga, terutama pelaku usaha kecil.
Namun, sebagai pemimpin, ia harus mengambil keputusan terbaik untuk kepentingan bersama dan penataan kawasan yang berkelanjutan.
Irwansyah yang sebelumnya merasa dikhianati dan sempat menyatakan tidak akan memilih Dedi lagi, akhirnya menyatakan dukungan terhadap pembongkaran menyeluruh.
Ia memahami pentingnya penataan demi keteraturan lingkungan, meski ia sendiri merasakan dampak langsungnya.
Dalam pengakuannya, pendapatannya dari berjualan kopi sangat minim.
Namun cukup untuk menopang hidup keluarga kecilnya. Ia berharap bisa kembali berdagang setelah adanya penataan dan dukungan dari pemerintah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni