Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Harga Minyak Dunia Diprediksi Naik Usai Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Iran

Nadia Nafifin • Senin, 23 Juni 2025 | 16:30 WIB
Ilustrasi bisnis minyak mentah yang membuat petani di Kecamatan Senori tertipu.
Ilustrasi bisnis minyak mentah yang membuat petani di Kecamatan Senori tertipu.

RADARTUBAN - Analis memperkirakan harga minyak dunia akan naik sebesar 3 hingga 5 dolar AS per barrel setelah Amerika Serikat (AS) terlibat dalam konflik militer Iran-Israel dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Sabtu (21/6) lalu.

Kenaikan harga minyak diperkirakan terjadi jika Iran merespons serangan dengan tindakan lebih agresif yang mengganggu pasokan minyak global.

Namun, menurut Jorge Leon, kepala analisis geopolitik Rystad Energy, harga minyak dunia kemungkinan akan melonjak meskipun Iran tidak melakukan pembalasan langsung terhadap serangan AS.

"Harga minyak diperkirakan akan naik. Bahkan jika tidak ada tindakan balasan langsung, pasar cenderung memperhitungkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi," kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad dan mantan pejabat OPEC, dilansir dari Reuters, Senin (23/6).

Analis SEB, Ole Hvalbye, memprediksi harga minyak global Brent dapat meningkat 3-5 dolar AS per barrel saat pasar minyak dibuka. Sebagai informasi, harga minyak Brent ditutup pada 77,01 dolar AS per barrel pada Jumat (20/6), sebelum serangan AS ke Iran.

Pada hari yang sama, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada 73,84 dolar AS per barrel.

Ole Hansen, analis dari Saxo Bank, menyatakan bahwa harga minyak mentah berpotensi dibuka 4 hingga 5 dolar AS per barrel lebih tinggi saat pasar minyak dibuka, dengan kemungkinan beberapa pembelian dibatalkan.

Sebagai catatan, harga minyak Brent telah meningkat 11 persen sejak konflik militer Iran-Israel pecah pada 13 Juni 2025.

Sementara itu, harga minyak WTI telah meningkat sekitar 10 persen karena situasi yang sama.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menyatakan bahwa stabilitas pasokan minyak saat ini dan ketersediaan kapasitas produksi cadangan dari anggota OPEC lainnya telah membatasi kenaikan harga minyak.

"Arah harga minyak dari sini akan bergantung pada apakah ada gangguan pasokan, yang kemungkinan akan mengakibatkan harga yang lebih tinggi, atau jika ada de-eskalasi dalam konflik, yang mengakibatkan memudarnya premi risiko," jelasnya.

Sebelumnya, Oxford Economics, firma penasihat ekonomi global, mengemukakan tiga skenario dampak konflik militer Iran-Israel.

Ketiga skenario tersebut dirilis sebelum Amerika Serikat (AS) terlibat dalam konflik di Timur Tengah.

Menurut Reuters, Minggu (22/6), skenario pertama adalah de-eskalasi konflik antara Iran dan Israel.

Skenario kedua melibatkan penghentian total produksi minyak Iran dan penutupan Selat Hormuz.

Menurut Oxford Economics, skenario kedua akan menyebabkan kenaikan harga minyak dunia yang lebih signifikan.

Sementara itu, skenario ketiga adalah lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar 130 dolar AS per barrel. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#global #Harga Minyak #timur tengah #iran #Amerika Serikat