RADARTUBAN - Fenomena penipuan cinta daring atau love scam terus menyasar korban dengan memanfaatkan kelemahan emosional, terutama sikap tidak enakan atau sungkan menolak permintaan.
Korban umumnya terjebak dalam ikatan manipulatif karena merasa tak ingin menyakiti perasaan pelaku yang tampak perhatian dan membutuhkan.
Psikolog M Damayanti Amir, S.Psi., menyampaikan bahwa kebiasaan untuk menyenangkan orang lain atau menjaga perasaan dapat menjadi akar seseorang terperangkap dalam relasi yang tidak sehat.
“Orang lebih mudah mengiyakan karena merasa tak enak, apalagi jika pelaku tampil sopan dan penuh perhatian,” jelasnya.
Pelaku love scam biasanya membangun hubungan emosional intens dengan pendekatan personal, sering kali diawali dengan pujian dan perhatian berlebihan.
Ketika korban mulai merasa terikat, pelaku mulai melontarkan permintaan seperti meminjam uang atau meminta data pribadi, yang disampaikan dengan dalih keadaan darurat.
Setelah korban merasa nyaman dan emosionalnya terikat, rasa sungkan untuk berkata tidak membuat mereka semakin rentan dimanipulasi.
“Korban yang tidak tegas dalam menolak menjadi sasaran empuk,” tambah Damayanti.
Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel turut mengungkap bahwa pelaku kerap menggunakan teknik grooming untuk menciptakan rasa aman dan terhubung secara emosional.
Mereka menyasar individu yang sedang dalam kondisi rapuh secara emosional, seperti kesepian, kehilangan, atau baru mengalami tekanan hidup.
Metode love bombing pun digunakan, yakni pemberian perhatian intens dan konsisten di awal hubungan.
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai memanfaatkan simpati korban untuk meminta bantuan finansial yang diklaim mendesak namun sebenarnya fiktif.
Korban love scam bukan hanya kehilangan secara materi, tapi juga mengalami trauma psikologis dan krisis kepercayaan.
Rasa malu, kecewa, bahkan depresi menjadi dampak lanjutan dari relasi semu ini.
Masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap relasi daring yang berkembang terlalu cepat.
Jika muncul permintaan uang di fase awal komunikasi, itu patut dicurigai.
Verifikasi identitas lawan bicara, simpan bukti percakapan, dan jangan mudah terpikat oleh rayuan manis.
“Hubungan yang sehat tidak dibangun dari manipulasi dan rasa bersalah. Kita berhak berkata tidak,” tutup Damayanti.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni