RADARTUBAN – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) makin ngebut dalam menekan emisi dan mendorong transisi menuju energi bersih.
Salah satu langkah nyatanya adalah dengan mendongkrak kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 6 kali lipat.
Pada akhir 2024, panel surya berkapasitas 6,4 Megawatt peak (MWp) resmi beroperasi secara komersial di 10 atap bangunan Pabrik Tuban, yang dikelola oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), anak usaha SIG.
Capaian ini mengatrol total kapasitas PLTS di lingkungan SIG Group menjadi 6,5 MWp, melonjak tajam dari hanya 0,12 MWp pada 2023.
“Kami ingin jadi pelopor dekarbonisasi di industri bahan bangunan nasional,” tegas Indrieffouny Indra, Direktur Utama SIG dikutip dari laman resmi perusahaan.
SIG menargetkan bukan hanya efisiensi biaya listrik, tetapi juga kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
PLTS yang dibangun mampu menghasilkan 1.726 MWh energi bersih per tahun dan mengurangi emisi karbon hingga 1,45 juta kilogram CO2.
“Ini adalah bagian dari Sustainability Roadmap 2030 yang sedang kami jalankan,” ujar Indrieffouny.
Tak hanya efisien dan ramah lingkungan, energi surya juga menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga daya saing industri, sembari memenuhi tuntutan global akan ekonomi hijau dan net zero emission.
Pabrik SBI di Tuban terletak di wilayah dengan intensitas penyinaran matahari tinggi, mencapai 5,4 kWh/m2/hari, di atas rata-rata nasional 4,8 kWh/m2/hari.
Potensi ini dimanfaatkan melalui pengembangan PLTS Atap On-Grid yang disambungkan ke jaringan listrik PLN, mendukung operasional pabrik dan fasilitas pendukungnya secara paralel.
Industri Semen RI Serius Turunkan Emisi, Tak Cuma Wacana
Asri Mukhtar, Direktur Utama SBI menegaskan, dunia usaha punya peran vital dalam mengatasi krisis iklim.
“Energi surya adalah investasi untuk masa depan. SBI konsisten mendukung target dekarbonisasi dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” tegas Asri.
Dengan transisi energi bersih ini, SIG menegaskan diri sebagai pelaku utama dalam industri hijau di Indonesia, menjawab tantangan global, dan memberi contoh bahwa keuntungan bisnis dan keberlanjutan lingkungan bisa berjalan beriringan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni