Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tradisi Mubeng Beteng, Ritual Sakral Malam 1 Suro yang Menyimpan Makna Mendalam di Jogja

Amaliya Syafithri • Kamis, 26 Juni 2025 | 19:34 WIB
Ilustrasi tradisi mubeng benteng, tradisi malam satu suro di Jogja
Ilustrasi tradisi mubeng benteng, tradisi malam satu suro di Jogja

RADARTUBAN - Pernahkah kamu melihat orang-orang di Jogja berjalan kaki tengah malam tanpa bicara sepatah kata pun?

Ternyata itulah yang disebut dengan tradisi Mubeng Beteng. Sebuah tradisi sakral yang dijalankan pada malam satu suro, tradisi ini masih ada hingga sekarang.

Tahun ini tradisi tersebut akan digelar pada 26 Juni 2025. Dilansir dari postingan akun Instagram @tugujogja.id.

Tradisi ini pada mulanya dimulai sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Namun, dulu tradisi ini hanya dilakukan oleh para abdi dalem. Berbeda dengan sekarang di mana masyarakat umum bisa ikut serta selama mereka dapat menjaga adabnya.

Prosesi tradisi ini dimulai sekitar pukul 23:00 WIB, dengan berjalan kaki sejauh 4 km tanpa menggunakan alas kaki, juga tanpa berbicara.

Rute jalan kaki yakni area sekitar Benteng Baluwerti, mulai dari Keben Keraton lalu kembali ke Alun-alun Utara.

Namun, sebelum mulai berjalan peserta tradisi akan mengikuti pembacaan doa dan prosesi restu dari ulama Keraton.

Ketika berjalan kaki seluruh peserta tidak berbicara satu patah kata pun, ini disebut dengan Tapa bisu. Perjalanan malam disebut dengan lampah Ratri.

Selain itu, ada juga tirakatan seperti tidak makan, minum, atau merokok. Semuanya dilakukan dalam suasana sunyi dan penuh dengan renungan.

Tradisi Mubeng Beteng terinspirasi dari perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini mengandung pesan seperti refleksi diri, penyucian batin, serta penyatuan hati dengan Tuhan.

Selain itu, tradisi ini menjadi bentuk tirakat spiritual yang membumi.

Di tengah masyarakat modern, tradisi ini tetap ada dan dilestarikan sebagai pengingat tentang budaya, spiritualitas, bahkan jati diri Jawa. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#berjalan kaki #jogja #malam satu suro #Mubeng Benteng