RADARTUBAN - Pernahkah kamu mendengar istilah malam 1 suro?
Di Jawa, malam 1 suro tidak hanya menjadi momen pergantian tahun dalam perhitungan Jawa, melainkan juga malam sakral dan penuh laku tirakat.
Malam 1 suro merupakan malam pertama di bulan suro dalam kalender Jawa, bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Islam.
Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah malam 1 suro tidak sama dengan malam satu Muharram, karena hari dalam kalender Jawa itu dimulai ketika matahari terbenam, bukan ketika hilal terlihat.
Membahas tentang malam 1 suro tentu tak lepas dari asal usul kalender Jawa. Kalender Jawa itu dibuat oleh Sultan Agung. Beliau merupakan raja Mataram Islam pada 1633 M.
Ada tiga sistem yang dipadukan dalam kalender ini, yaitu sistem kalender Islam, kalender saka (Hindu), dan kalender Julian (Barat).
Digabungkannya tiga sistem kalender tersebut bertujuan untuk menyatukan antara tradisi lokal dan Islam tanpa adanya benturan budaya. Sungguh spektakuler bukan!
Malam 1 suro dipercaya sebagai malam sakral karena pernah jatuh pada hari Jumat legi yang dikeramatkan.
Saat itulah masyarakat akan berkumpul untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti:
1. Pengajian
2. Ziarah kubur
3. Haul tokoh-tokoh Wali
Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang memilih untuk menyepi, berdoa, bahkan melakukan tirakat daripada sekedar berpesta.
Selain itu, setiap daerah memiliki tradisi untuk menyambut malam 1 suro ini, contoh tradisi yang populer yaitu :
1. Mubeng Beteng dan Tapa Bisu (Jogja)
2. Kirab Kebo Bule (Solo)
3. Pawai Obor (Lumajang)
4. Kungkum di Sungai (Semarang)
5. Manten Lurah (Temanggung)
Tiap-tiap tradisi tersebut mengandung pesan untuk introspeksi diri, penyucian diri, serta doa untuk tahun baru.
Malam 1 suro itu bukan tentang mistik, tetapi menyelaraskan jiwa dan mewarisi kearifan leluhur dalam warisan budaya dan spiritualitas yang dalam.
Nah, sebentar lagi malam 1 suro ini akan tiba, apakah kamu sudah siap untuk menyambutnya? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni