RADARTUBAN – Nilai tukar Rupiah tiba-tiba menunjukkan taring di hadapan Dolar Amerika Serikat (USD) menjelang akhir pekan ini.
Namun, di balik penguatan yang cukup signifikan itu, sejumlah analis mempertanyakan: apakah ini momen kebangkitan fundamental atau sekadar efek sesaat menjelang long weekend?
Berdasarkan data Refinitiv, pada Kamis (26/6), rupiah menguat 0,53 persen dan ditutup di level Rp 16.200 per dolar AS.
Ini merupakan posisi terkuat rupiah sejak 27 Mei 2025, mencatatkan penguatan mingguan sebesar 1,10 persen.
Namun jika ditelaah lebih dalam, penguatan ini bukan sepenuhnya karena faktor domestik yang kuat, melainkan ditopang oleh faktor eksternal: pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) yang turun ke level 97,22 atau melemah 0,46 persen.
Pelemahan Dolar AS terjadi karena pelaku pasar global cenderung wait and see terhadap sejumlah rilis penting data ekonomi AS, termasuk angka pertumbuhan ekonomi kuartal II dan laporan PCE (Personal Consumption Expenditures) yang merupakan indikator inflasi utama The Fed.
Artinya? Pasar global belum bergerak aktif. Sementara penguatan rupiah bisa jadi hanya teknikal rebound akibat pelemahan musiman dolar, bukan karena kekuatan fundamental makroekonomi Indonesia.
Menurut Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, meningkatnya permintaan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh efek kalender, yaitu libur panjang akhir pekan yang mendorong konversi dana ke rupiah secara temporer.
"Ini lebih kepada demand jangka pendek. Apakah akan berlanjut? Itu bergantung pada hasil negosiasi fiskal dan data inflasi AS minggu depan," tegas Arya.
Sementara itu, para pelaku pasar juga tengah memantau ketat tenggat negosiasi fiskal dan perdagangan AS yang jatuh pada 9 Juli.
Jika tidak ada kepastian soal anggaran atau pengesahan RUU fiskal, ketidakpastian global bisa kembali menguatkan dolar AS, dan rupiah berpotensi kembali tertekan.
Meski penguatan rupiah perlu diapresiasi, para analis mengingatkan bahwa stabilitas jangka panjang tetap membutuhkan fundamental kuat, bukan hanya bergantung pada pelemahan musuh.
Apalagi, faktor domestik seperti defisit transaksi berjalan, utang luar negeri, dan ketergantungan impor masih menjadi tekanan jangka menengah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni