RADARTUBAN - Hari jadi kabupaten dan kota di Jawa Timur pada bulan Juli bukan sekadar seremoni tahunan.
Momen ini menjadi refleksi atas sejarah panjang, identitas budaya, serta kontribusi masyarakat dalam membangun daerahnya masing-masing.
Tiga daerah yang memperingati hari lahir di bulan Juli adalah Kabupaten Madiun, Kota Kediri, dan Kabupaten Ngawi, yang masing-masing punya cerita dan kekayaan lokal tersendiri.
Kabupaten Madiun memperingati hari jadinya pada 18 Juli 1568, yang ditetapkan berdasarkan penanggalan Jawa Islam.
Sebelum bernama Madiun, wilayah ini dikenal dengan sebutan Purabaya.
Pergantian nama terjadi setelah peristiwa penyerangan oleh Mataram pada tahun 1590 yang melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Sutawijaya dan Raden Ayu Retno Dumilah.
Perubahan nama menjadi “Madiun” resmi dilakukan pada 16 November 1590.
Selain sejarah yang kuat, Kabupaten Madiun dikenal dengan kuliner khas pecel yang melegenda.
Tak hanya itu, komoditas seperti padi, kedelai, kakao, hingga kopi juga menjadi andalan sektor pertanian daerah ini.
Potensi inilah yang mendorong Madiun terus berkembang sebagai pusat agrikultur dan budaya kuliner Jawa Timur.
Dikenal dengan julukan Kota Tahu, Kota Kediri berdiri pada 27 Juli 879, menjadikannya salah satu kota tertua di Jawa Timur.
Kota ini memiliki semboyan “Djojo ing Bojo” yang berarti “mengalahkan marabahaya.”
Berdasarkan catatan sejarah, Kediri menjadi wilayah swapraja sejak diresmikannya Gemeente Kediri pada 1 April 1906.
Dalam perjalanan sejarahnya, Kediri berkembang menjadi pusat perdagangan gula dan industri rokok.
Kota ini bahkan pernah menyandang gelar kota paling kondusif untuk investasi.
Tak kalah penting, Kediri juga memiliki nilai spiritual tinggi dengan berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo pada tahun 1910, yang kini menjadi salah satu pesantren tertua dan terkemuka di Indonesia.
Kabupaten Ngawi, yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, memperingati hari jadinya pada 7 Juli 1358.
Tanggal ini ditetapkan melalui SK DPRD pada 1986, menggantikan penetapan lama yang dianggap kurang nasionalis karena berkaitan dengan masa kolonial.
Nama “Ngawi” berasal dari kata awi (bambu), ditambah awalan “Ng” yang merupakan sengauan khas bahasa Jawa.
Keberadaan tanaman bambu yang tumbuh subur di sekitar Bengawan Solo dan Bengawan Madiun menjadi alasan utama penamaan ini.
Salah satu situs bersejarah yang mencerminkan kekuatan kolonial Belanda di Ngawi adalah Benteng Van den Bosch, yang berdiri antara tahun 1839 hingga 1845.
Selain itu, kekayaan kuliner lokal seperti Wedang Cemue memperkuat identitas kuliner Ngawi.
Minuman ini unik karena disajikan dengan bawang goreng dan memadukan rasa manis, pedas, dan gurih dalam satu sajian.
Peringatan hari jadi kabupaten dan kota di Jawa Timur seperti Madiun, Kediri, dan Ngawi tidak hanya memperkuat ingatan sejarah, tetapi juga mengangkat potensi lokal yang menjadi kekuatan pembangunan daerah.
Momentum ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk merefleksikan jati diri sekaligus memajukan daerahnya dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni