RADARTUBAN – Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang tidak tenang.
Hubungan panas antara Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan dan Sekretaris Daerah (Sekda) Herman Suryatman menyeruak ke ruang publik.
Namun siapa sebenarnya sosok di balik nama Wagub yang kini tampil frontal menantang struktur birokrasi itu?
Bagi sebagian kalangan, Erwan Setiawan hanyalah “anak bos Persib Bandung” atau mantan Wakil Bupati dari Sumedang.
Tapi di balik itu, dia adalah figur politik yang sedang naik daun—berkarakter tegas, punya rekam jejak politik yang panjang.
Hingga kini tampil sebagai “penyeimbang” dalam duet pemerintahan bersama Gubernur Dedi Mulyadi.
Profil Singkat Erwan Setiawan
Nama Lengkap: Erwan Setiawan
Tempat/Tanggal Lahir: Bandung, 29 Juli 1970
Usia: 55 tahun
Status: Menikah, 4 anak
Pendidikan:
SD Santo Yusup
SMP dan SMA BPI 1 Bandung
D3 Politeknik Industri dan Niaga Bandung (1996)
S1 Ekonomi – Universitas Langlangbuana (2008)
Partai Politik:
Demokrat (2009–2022)
Golkar (2022–kini)
Karier Politik: Dari DPRD ke Wakil Gubernur
Erwan bukan figur instan. Karier politiknya dibangun dari bawah.
Dia memulai sebagai pengusaha lokal, kemudian masuk dunia politik dengan jalur legislatif hingga ke eksekutif.
2001–sekarang: Direktur CV Ganeca Kiara (pengusaha bidang konstruksi)
2009–2014: Anggota DPRD Kota Bandung, bahkan menjabat Ketua DPRD
2014–2018: Kembali menjabat anggota DPRD Bandung (Komisi C)
2018–2023: Wakil Bupati Sumedang, dikenal aktif turun lapangan
2025–kini: Wakil Gubernur Jawa Barat mendampingi Dedi Mulyadi dalam format koalisi besar KIM (Koalisi Indonesia Maju versi daerah)
Anak Bos Persib, Jejaring yang Tak Bisa Diabaikan
Erwan Setiawan adalah putra dari Umuh Muchtar, manajer Persib Bandung yang punya pengaruh besar dalam dunia olahraga dan bisnis di Jawa Barat.
Dari sini, Erwan banyak mengantongi jejaring sosial-politik yang mengakar kuat di kalangan pengusaha, tokoh sepakbola, dan masyarakat Bandung Raya.
Koneksi keluarga ini jadi pondasi penting yang mengokohkan posisinya di panggung politik lokal.
Perseteruan dengan Sekda: Teguran atau Manuver Politik?
Konflik terbaru muncul ketika Erwan menegur Sekda Herman Suryatman yang dinilai terlalu “dominan” dan “melebihi tupoksi” seorang birokrat.
Erwan secara terbuka meminta agar Sekda tidak mengambil alih fungsi eksekutif dan fokus pada tugas administratif saja.
Sikap ini menuai kontroversi, tapi juga memperlihatkan dua sisi penting yakni monsistensi Erwan sebagai pengawas birokrasi atau indikasi keretakan koordinasi internal antara eksekutif dan birokrasi di Pemprov Jabar.
Gubernur Dedi Mulyadi diketahui lebih condong mendukung Sekda, yang membuat posisi Erwan semakin terisolasi—atau justru makin disorot sebagai sosok oposisi dalam internal pemerintahan.
Karakter Politik: Blak-blakan dan Dekat Akar Rumput
Erwan bukan tipikal politisi diam.
Dia sering tampil langsung ke lapangan, bicara tegas, dan punya gaya komunikasi informal yang dekat dengan masyarakat.
Beberapa kalangan menilainya sebagai figur “pengimbang” di tengah birokrasi yang terlalu elitis.
Kang Erwan juga dikenal kritis terhadap proyek-proyek daerah yang menurutnya tidak berpihak pada rakyat, dan tidak ragu menyentil aparatur Pemprov yang dinilainya ‘jalan sendiri’.
Dampak Politik dan Implikasinya
Kinerja pemerintahan Provinsi Jabar bisa terganggu bila disharmoni ini tak segera ditengahi. Citra Dedi Mulyadi sebagai pemimpin kolektif juga turut dipertaruhkan bila konflik ini dibiarkan berlarut.
Di sisi lain, Erwan bisa kehilangan dukungan elite, tapi justru mendapatkan simpati rakyat—terutama dari daerah non-perkotaan yang merasa kurang terwakili.
Erwan Setiawan bukan sekadar Wakil Gubernur.
Dia adalah tokoh yang sedang menguji kekuatan struktur pemerintahan daerah, menantang ketimpangan fungsi, dan membuka diskursus tentang relasi eksekutif-administratif yang seimbang.
Namun, apakah langkahnya memperkuat posisi rakyat dalam birokrasi? Atau justru memperkeruh jalannya pemerintahan?
Publik kini menanti—apakah Erwan akan menjadi pembaharu sistemik di Jabar, atau terjebak sebagai pion politik dalam drama kekuasaan elit. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama