Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gaji Rp 300 Ribu per Jam di Australia, WNI Pemetik Buah Ungkap Fakta Biaya Hidup Sehari-hari

Ika Nur Jannah • Rabu, 2 Juli 2025 | 18:15 WIB
Merianti jalani WHV, gaji tinggi tapi tetap hemat di Australia
Merianti jalani WHV, gaji tinggi tapi tetap hemat di Australia

RADARTUBAN- Sosok Merianti, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai pemetik buah di Australia, tengah ramai diperbincangkan publik.

Lewat kisahnya yang viral di media sosial, Merianti mengaku bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 300 ribu per jam, atau setara AUD 30, dari pekerjaan fisik di ladang buah.

Merianti sebelumnya berkarier sebagai customer service di salah satu bank swasta Tanah Air.

Namun, ia memutuskan mengikuti program Working Holiday Visa (WHV) demi mencari pengalaman sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Program WHV memungkinkan warga Indonesia bekerja sambil berlibur di Australia, dengan jenis pekerjaan yang umumnya bersifat fisik.

Mulai dari memetik buah, menyortir hasil panen, bekerja di restoran, hingga gudang.

Merianti sendiri sudah satu setengah tahun tinggal di Australia dan menjalani berbagai pekerjaan tergantung musim.

Pendapatan yang ia peroleh bahkan melebihi upah minimum Australia, yakni AUD 20 per jam.

Meski gaji per jamnya terdengar fantastis, Merianti harus menghadapi realita biaya hidup yang tinggi.

Berdasarkan data yang dihimpun, pengeluaran hidup di Australia per bulan berkisar antara AUD 2.000–4.500 atau setara Rp 20–46 juta, tergantung kota dan gaya hidup.

Beberapa komponen biaya hidup:

- Sewa apartemen 1 kamar di pusat kota (Sydney): AUD 2.478 (Rp 25,5 juta)

- Biaya makan dan kebutuhan sehari-hari: AUD 600–1.000 (Rp 6–10 juta)

- Transportasi umum bulanan: AUD 135–217 (Rp 1,4–2,3 juta)

Namun, Merianti mengaku tetap bisa menyisihkan pendapatan untuk ditabung dan dikirim ke keluarga di Indonesia.

Kuncinya: gaya hidup hemat dan manajemen keuangan yang ketat.

“Yang penting pintar mengatur, tinggalnya bareng teman, masak sendiri, jadi bisa irit,” ungkapnya.

Cerita Merianti menjadi bukti bahwa kerja fisik di luar negeri bisa menjadi peluang yang menjanjikan bila dijalani dengan perencanaan yang matang.

Tak hanya mendapatkan penghasilan lebih besar, tapi juga membuka wawasan baru tentang kerja keras, adaptasi budaya, hingga kehidupan mandiri. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Merianti #pemetik buah #whv #gaji #WNI #ekonomi keluarga