RADARTUBAN- Perseteruan panas antara Sekda Jawa Barat Herman Suryatman dan Wakil Gubernur Erwan Setiawan sempat menghangatkan panggung politik lokal.
Bukan soal politik praktis, melainkan ketidakhadiran Herman dalam rapat paripurna DPRD Jabar yang bikin Wagub naik pitam.
Tapi siapa sebenarnya Herman Suryatman, pria di balik jabatan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat yang kini jadi buah bibir publik?
Profil Singkat Herman Suryatman: Dari Intel Militer ke Jantung Birokrasi Jabar
Lahir: Sumedang, 11 November 1970
Pendidikan:
IPDN (1992)
Magister Ilmu Pemerintahan Unpad (2003)
Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN (2024)
Sebelum berkiprah di panggung pemerintahan, Herman pernah menjadi perwira intelijen Kodam IX/Udayana (1992–1994).
Lalu banting setir jadi Lurah Cipameungpeuk, hingga akhirnya mendaki tangga birokrasi dari camat, kadis, hingga Sekda Sumedang (2019–2023).
Kariernya sempat moncer di level nasional sebagai Kepala Biro Hukum dan Humas KemenPAN-RB, juga menjabat Sekretaris Deputi SDM Aparatur (2013–2019).
Herman resmi dilantik sebagai Sekda Jabar pada 1 April 2024 oleh Pj Gubernur Bey Machmudin.
Namun nama Herman kembali mencuat usai Wagub Erwan Setiawan mengkritik keras ketidakhadirannya di rapat DPRD Jabar akhir Juni lalu.
Wagub menyentil tajam: “Ke mana saja Sekda selama ini?”
Menanggapi itu, Herman menjelaskan dirinya mendampingi Gubernur Dedi Mulyadi ke lokasi bencana, bukan bolos seenaknya. Ia menegaskan: “Saya bekerja totalitas, bahkan malam dan hari libur!”
Gubernur Dedi Mulyadi akhirnya memediasi. Pertemuan empat mata Herman dan Erwan terjadi usai sidang paripurna (30/6).
Keduanya sepakat kembali harmonis, fokus membangun Jabar sesuai tupoksi masing-masing.
Namun publik tetap bertanya, apakah ini damai yang benar-benar damai atau hanya ‘gencatan senjata’ birokrasi?
Herman Suryatman bukan tipe birokrat konvensional. Ia pintar, berani tampil, dan paham citra publik.
Tapi gaya tancap gas-nya itu justru jadi bumerang ketika ketidakhadiran formalnya bikin gerah rekan selevel.
Kini, saat publik mengawasi dengan lebih tajam, Herman harus membuktikan bahwa ia memang pemimpin administratif yang tidak hanya kuat di panggung media, tapi juga solid di balik meja birokrasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni