RADARTUBAN- Menghadapi anak yang mengalami tantrum adalah sebuah tantangan besar bagi banyak orang tua.
Ledakan emosi yang terjadi secara tiba-tiba sering kali membuat orang tua merasa panik atau kehilangan kesabaran.
Namun, memahami alasan sekaligus cara yang tepat dalam menanggapi tantrum dapat sangat membantu dalam menciptakan proses pengasuhan yang lebih sehat dan penuh empati.
Tantrum sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan emosi pada anak.
Kejadian ini biasanya muncul pada usia balita, ketika mereka mulai berusaha untuk mandiri, namun belum sepenuhnya mampu mengungkapkan keinginan mereka dengan kata-kata.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk merespons dengan cara yang sesuai. Berikut adalah tiga langkah utama yang dapat diterapkan:
1. Jaga Ketenangan dan Hadir Secara Emosional
Langkah awal dalam menghadapi tantrum adalah menjaga ketenangan diri. Hindari untuk membalas teriakan atau mengkritik dengan suara keras.
Anak yang sedang tantrum tidak sedang menantang batasan orang tua, melainkan merasakan ketidaknyamanan emosional yang sulit untuk mereka kelola.
Dengan tetap tenang, orang tua menciptakan suasana yang aman dan stabil bagi anak.
Duduk dekat dengan anak, beri mereka ruang, tetapi tunjukkan bahwa Anda siap membantu mereka.
2. Hargai Perasaan Anak
Daripada langsung meminta anak untuk berhenti berbicara atau menangis, lebih baik tunjukkan bahwa Anda memahami perasaan mereka.
Ungkapan seperti, “Apakah kamu marah karena mainanmu rusak? ” atau “Pasti sedih ya jika tidak bisa beli mainan itu,” dapat membantu anak merasa didengarkan.
Menghargai emosi ini mengajarkan anak bahwa rasa marah atau sedih adalah hal yang normal, serta membantu mereka belajar mengenali dan mengatasi perasaan mereka.
3. Arahkan Anak Ketika Emosi Mereda
Setelah perasaan anak mulai mereda, barulah ajak mereka untuk berbicara. Hindari mengajar atau menghakimi secara langsung.
Manfaatkan momen ini untuk memberi pengertian. Tanyakan apa yang mereka rasakan, dan bantu mereka menemukan cara lain yang lebih baik untuk mengungkapkan keinginan mereka.
Anda bisa mengatakan, “Jika kamu marah, lebih baik katakan saja, tidak perlu berteriak. ”
Tantrum bukanlah indikasi bahwa anak tersebut nakal, melainkan tanda bahwa mereka sedang kesulitan untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Dengan memahami dan mendampingi anak secara empatik, Anda tidak hanya menenangkan mereka, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi individu yang peka secara emosional.
Ingatlah, tangisan saat ini bisa menjadi langkah awal menuju komunikasi yang lebih baik di masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni