RADARTUBAN – Kabar gembira bagi para pengguna jalan dan pelaju harian di wilayah Jawa Tengah dan Jogjakarta.
Tol Solo–Jogja seksi Klaten–Prambanan resmi dibuka untuk umum pada Rabu, 2 Juli 2025 mulai pukul 06.00 WIB.
Kehadiran ruas tol baru ini digadang-gadang menjadi solusi kemacetan serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Ruas Klaten–Prambanan merupakan bagian strategis dari Proyek Jalan Tol Solo–Jogjakarta–YIA Kulon Progo, yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Ruas tol ini menjadi tulang punggung konektivitas kawasan Solo–Jogja–Bandara YIA.
Tol ini dibangun oleh PT Jogjasolo Marga Makmur (JMM), anak usaha dari PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
Kehadiran ruas Klaten–Prambanan akan menghubungkan dua titik penting yakni Gerbang Tol Klaten (Delanggu) dan Gerbang Tol Prambanan (Gamping arah barat).
Total panjang seksi ini mencapai 9,2 kilometer, dan digadang-gadang akan mempersingkat waktu tempuh Solo–Jogja menjadi hanya sekitar 30 menit, dari sebelumnya bisa mencapai 1,5–2 jam pada jam sibuk.
Berdasarkan keterangan resmi dari JMM dan BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol), tarif sementara untuk kendaraan golongan I (mobil pribadi) adalah sekitar Rp 11.000 – Rp 15.000, tergantung titik masuk dan keluar.
Tarif ini akan gratis (nol rupiah) selama masa uji coba atau sosialisasi awal selama 7 hari pertama mulai 2 Juli hingga 8 Juli 2025.
Pengguna disarankan menggunakan e-Toll Card atau kartu uang elektronik yang telah aktif.
Seksi Klaten–Prambanan melewati sejumlah wilayah padat dan strategis: Kecamatan Delanggu, Kecamatan Ceper, Kecamatan Kalikotes, ketiganya di Kabupaten Klaten.
Juga, Kecamatan Prambanan yang masuk wilayah Kabupaten Sleman.
Ruas ini juga dilengkapi dengan rest area sementara, CCTV 24 jam, dan layanan derek siaga untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan tol.
Pemerintah optimistis tol ini akan memberikan multiplier effect bagi kawasan sekitar.
Di antaranya, mempercepat arus logistik dan distribusi barang dari Solo ke Jogjakarta dan sebaliknya.
Meningkatkan akses wisata ke destinasi unggulan seperti Candi Prambanan, Candi Plaosan, serta kawasan wisata religi dan budaya di Klaten dan sekitarnya.
Juga, memicu pertumbuhan kawasan industri ringan dan UMKM di Klaten dan Sleman.
Namun, kritik juga muncul dari kalangan aktivis dan pemerhati lingkungan yang menyayangkan hilangnya sejumlah lahan pertanian produktif dan potensi konflik agraria yang belum sepenuhnya diselesaikan.
Kepala BPJT Willan Oktavian menyatakan bahwa pembukaan seksi ini merupakan tonggak penting dari konektivitas ekonomi lintas kota di Jawa bagian selatan.
“Kami berharap masyarakat bisa merasakan manfaat langsung dari kehadiran tol ini. Keamanan, efisiensi waktu, dan kenyamanan menjadi prioritas kami,” ujarnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni