RADARTUBAN- Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah brainrot kini menjadi sorotan kalangan akademisi dan pemerhati anak.
Dosen dan pakar dari IPB University memperingatkan bahwa paparan konten digital yang dangkal dan tidak bermutu secara berlebihan dapat memicu penurunan fungsi kognitif dan emosional anak dan remaja.
Brainrot sendiri merujuk pada kondisi di mana otak mengalami degradasi kemampuan berpikir kritis, konsentrasi, dan kreativitas akibat konsumsi konten yang berulang dan tidak produktif.
Kondisi ini menyebabkan anak lebih memilih layar perangkat digital daripada interaksi sosial yang nyata.
Paparan brainrot tak hanya berdampak pada otak, tetapi juga mempengaruhi kesejahteraan sosial dan emosional anak.
Gejalanya mencakup mudah tantrum, sulit membangun relasi keluarga yang sehat, hingga kesulitan belajar karena otak cenderung terpaku pada informasi instan dan enggan menyerap materi kompleks.
Menurut psikolog IPB University, Nur Islamiah, kebiasaan seperti doomscrolling (terus-menerus membaca konten negatif) dan zombiescrolling (scrolling tanpa tujuan) turut meningkatkan risiko kecemasan, stres, dan depresi.
Ia menilai bahwa rentang perhatian generasi muda semakin pendek, dan kemampuan analisis mereka melemah seiring waktu.
“Fenomena ini bisa mengancam kualitas sumber daya manusia muda Indonesia, padahal kita tengah menanti bonus demografi,” tegas Nur.
Untuk mencegah brainrot, diperlukan intervensi menyeluruh dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah.
Orang tua memiliki peran strategis dalam mengatur durasi dan kualitas waktu layar anak. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
-
Mengganti waktu scrolling dengan kegiatan bermakna seperti membaca, menulis, atau bermain musik
-
Menerapkan rutinitas sehat: tidur cukup, pola makan teratur, dan aktivitas fisik
-
Mengajak anak berdiskusi dan membangun koneksi emosional yang intens
Kuncinya bukan melarang sepenuhnya teknologi, tetapi mengarahkan penggunaan gadget agar lebih mendidik dan bertanggung jawab. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni