RADARTUBAN - Salah satu nama besar dalam industri makanan global, Del Monte Foods, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan di bawah Undang-Undang Chapter 11 Amerika Serikat pada Juli 2025.
Langkah ini diambil setelah perusahaan legendaris asal California itu terhimpit krisis finansial berkepanjangan dan harus menata ulang seluruh portofolio bisnisnya.
Del Monte, yang sudah eksis sejak 1886, selama ini dikenal lewat produk buah dan sayur kaleng yang melegenda, termasuk merek populer seperti Contadina dan College Inn.
Namun sejarah panjang itu kini menghadapi babak kelam, menyusul utang yang membengkak hingga mencapai USD 1–10 miliar, atau sekitar Rp 16–162 triliun.
Masa pandemi COVID-19 menjadi titik balik kondisi keuangan Del Monte.
Permintaan produk melonjak tajam, membuat perusahaan meningkatkan kapasitas produksi secara agresif.
Tapi keputusan strategis itu berbalik jadi bumerang saat permintaan anjlok pasca pandemi.
Akibatnya, stok berlebihan harus dijual dengan harga rugi, memicu kerugian besar dalam neraca keuangan mereka.
CEO Del Monte Foods, Greg Longstreet, menyebut pengajuan pailit sebagai langkah strategis untuk mempercepat pemulihan dan menciptakan struktur bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Kami menjalani evaluasi menyeluruh dan tetap berkomitmen menjaga kelangsungan operasional serta pelayanan konsumen,” ujarnya.
Untuk memastikan produk tetap tersedia di pasar selama proses hukum berlangsung, Del Monte telah memperoleh pendanaan darurat sebesar USD 912,5 juta.
Dana ini digunakan untuk menjaga kelancaran distribusi dan mempertahankan operasional pabrik-pabrik utama mereka.
Meski mengajukan pailit, proses Chapter 11 memungkinkan Del Monte tetap beroperasi sambil menjalankan restrukturisasi utang dan mencari investor atau pembeli aset perusahaan.
Tujuannya adalah mempertahankan posisi perusahaan dalam industri FMCG global sekaligus menghormati warisan bisnis yang telah dibangun selama lebih dari satu abad.
Del Monte menjadi contoh nyata bahwa kekuatan merek dan sejarah panjang tidak selalu menjamin ketahanan bisnis, apalagi di tengah dinamika pasar yang berubah cepat.
Preferensi konsumen yang kini lebih memilih produk segar atau berbasis lokal membuat pemain lama seperti Del Monte harus beradaptasi atau tertinggal.
Langkah pailit ini sekaligus membuka peluang transformasi bagi Del Monte untuk kembali relevan di era konsumsi modern, dan menjadi pengingat bahwa inovasi serta kelincahan strategi tetap menjadi faktor utama dalam menghadapi persaingan industri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni