RADARTUBAN - Pekerja konstruksi dari Pulau Jawa atau yang sering disebut kuli jawa, dikenal luas di dunia konstruksi karena etos kerja yang kuat dan keterampilan yang mumpuni.
Mereka tidak hanya menangani proyek lokal, tetapi juga dipercaya untuk mengerjakan proyek berskala nasional di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Taufik Widjoyono, dominasi pekerja asal Jawa di sektor ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk etos kerja yang terbentuk dari pengalaman sosial dan sejarah yang panjang.
"Menurut pandangan saya pribadi, tenaga konstruksi asal Jawa memang mayoritas. Pertama karena populasinya paling banyak," ujar Taufik, dilansir dari Kompas, Sabtu (5/7).
Bukan hanya karena jumlah, dominasi pekerja konstruksi Jawa juga didukung oleh kualitas kerja yang terbentuk dari tekanan sosial dan budaya yang menuntut ketahanan, ketekunan, dan kemampuan serba bisa.
Taufik menjelaskan bahwa masyarakat Jawa, sejak masa penjajahan, perang kemerdekaan, hingga era Orde Lama, menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan sosial.
Kondisi ini mendorong mereka mengembangkan ketangguhan dan keterampilan hidup, yang tercermin dalam keahlian mereka di bidang konstruksi.
"Tekanan hidup tersebut melahirkan tenaga kerja yang ulet, cekatan, dan memiliki kemampuan serba bisa," kata Taufik.
Selain itu, pekerja konstruksi dari Jawa terbiasa dengan sistem sosial yang menerapkan standar kerja ketat, yang secara tidak langsung membentuk karakter disiplin dan bertanggung jawab.
Taufik menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat Jawa dalam sektor konstruksi juga dipengaruhi oleh budaya komunitas.
Banyak dari mereka berasal dari lingkungan yang telah lama berkecimpung di bidang serupa.
Beberapa daerah bahkan dikenal sebagai sentra tukang. Misalnya, Yogyakarta terkenal dengan ahli ukur dan ukir, Wonosobo dan Wonogiri dengan tukang batu, serta Sumedang dan Priangan Timur dengan tukang pasang keramik.
Selain faktor sosial, Taufik menyebutkan bahwa perkembangan pekerja konstruksi Jawa didukung oleh sejarah panjang pembangunan yang terpusat di wilayah ini.
Pada era kolonial, proyek infrastruktur besar seperti Jalan Pos Anyer-Panarukan, Istana Bogor, dan Istana Merdeka melibatkan tenaga tukang dari Jawa.
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil, pemerintah kolonial Belanda mendirikan sekolah teknik sipil pertama di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1938.
Hal ini mendorong munculnya tenaga kerja yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga menguasai aspek teknis pembangunan modern.
"Jadi bukan hanya karena faktor budaya, tapi juga karena pendidikan formal teknik memang dimulai dari Jawa," ujar Taufik.
Menurut Taufik, hal ini memungkinkan banyak pekerja asal Jawa untuk menangani proyek konstruksi yang kompleks, seperti pembangunan rel kereta api, pelabuhan, dan bandara. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni