RADARTUBAN — Fenomena aphelion, kondisi ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbitnya, diperkirakan terjadi pada Juli 2025.
Di tengah viralnya informasi seputar suhu dingin ekstrem dan ancaman kesehatan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa aphelion bukan penyebab cuaca ekstrem, serta tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan di Bumi.
Menurut BMKG, jarak Bumi ke Matahari saat aphelion mencapai sekitar 152 juta kilometer, atau sekitar 2,5 juta kilometer lebih jauh dibandingkan jarak rata-rata.
Meski terdengar cukup besar, perbedaan ini tidak memicu perubahan suhu ekstrem ataupun gangguan pola cuaca.
Orbit Bumi berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna, sehingga jarak dengan Matahari memang berubah-ubah sepanjang tahun.
Namun, faktor utama yang memengaruhi perubahan musim dan cuaca di Bumi bukanlah jarak, melainkan kemiringan sumbu rotasi Bumi.
“Aphelion tidak menyebabkan gangguan cuaca yang berarti. Cuaca lebih dipengaruhi oleh kemiringan sumbu rotasi, bukan jarak dari Matahari,” jelas BMKG dalam keterangan resminya.
Maka dari itu, narasi yang menyebutkan bahwa aphelion akan menyebabkan suhu dingin ekstrem, lonjakan penyakit, atau gangguan kesehatan dipastikan hoax dan tidak memiliki dasar ilmiah.
Alih-alih panik, masyarakat diajak menikmati berbagai fenomena astronomi menarik yang akan menghiasi langit bulan Juli 2025, seperti:
-
Bulan Purnama Buck Moon (11 Juli)
-
Hujan meteor Piscis Austrinid (28 Juli) – Intensitas rendah, sekitar lima meteor per jam
-
Puncak hujan meteor Delta-Aquariid dan Alpha-Capricornid (30 Juli)
BMKG menyarankan warga tetap tenang dan tidak terpancing isu tak berdasar.
Pemahaman yang benar soal astronomi penting agar masyarakat tidak terjebak pada ketakutan yang tidak perlu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni