RADARTUBAN – Tradisi Pacu Jalur yang merupakan warisan budaya khas dari Kuantan Singingi, Riau, saat ini tengah menjadi sorotan global usai viral di media sosial.
Video balap perahu panjang yang diiringi gerakan penari tengah viral di jagat maya hingga menarik perhatian netizen luar negeri.
Namun, dalam ramainya pujian dan rasa bangga, muncul beberapa komentar yang membuat emosi memanas: "Pacu Jalur is from Malaysia."
Klaim dari kolom komentar itu sontak menyulut kegelisahan publik.
Warganet Indonesia ikut ramai berkomentar membantah, bahkan ikut menyebarkan ulang unggahan dengan nada geram.
Namun hal unik ditemukan ketika lewat penelusuran lebih dalam. Ditemukan bahwa komentar yang menyebut bahwa Pacu Jalur berasal dari Malaysia ternyata berasal dari netizen Indonesia sendiri.
Hal ini diduga lantaran hanya ingin menarik perhatian atau sekadar bercanda dengan sarkasme untuk menimbulkan sensasi.
Fenomena ini berawal dari tren netizen lokal yang kerap menyelipkan komentar-komentar satir seperti "this is from Malaysia" di unggahan budaya Indonesia yang viral.
Namun kali ini efek yang ditimbulkan jauh lebih besar. Hal ini menyebakan beberapa netizen luar negeri percaya bahwa budaya tersebut memang milik Malaysia.
Akibat klaim tersebut menyebar liar, ini pada akhirnya juga mengaburkan fakta sejarah tradisi Pacu Jalur yang telah hidup sejak abad ke-17 di tanah Melayu Riau.
Media sosial pada akhirnya ikut berubah menjadi arena debat. Di TikTok, ribuan komentar bermunculan dengan saling memperdebatkan masalah klaim ini.
Beberapa netizen Indonesia mencoba meluruskan informasi, namun sebagian justru menambah kebingungan dengan membalas komentar klaim dengan candaan serupa.
Hal ironis yang ditemukan adalah ketikta ternyata sebagian besar komentar tersebut memang ditulis oleh warganet Indonesia sendiri.
Meskipun telah diklarifikasi, kasus ini menyisakan pelajaran penting. Pada derasnya arus informasi digital, komentar tanpa dasar atau bukti yang jelas dapat mengundang kericuhan lintas negara.
Kasus ini diperparah ketika ditemukan bahwa komentar tersebut lahir dari keisengan warganet sendiri, hal ini membuat citra bangsa dapat menjadi taruhannya.
Saat ini Pacu Jalur masih terus viral media sosial—bahkan dapat disebut-sebut bakal jadi ikon budaya digital Indonesia.
Namun jika tidak disertai dengan narasi yang baik dan sikap bijak serta bertanggung jawab dari netizen, kebanggaan itu dapat dengan mudah menjadi bahan perselisihan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni