RADARTUBAN — Langit ibu kota kini memiliki wajah baru. Autograph Tower, gedung pencakar langit dengan ketinggian 382,9 meter dan 75 lantai, resmi dinobatkan sebagai bangunan tertinggi di Indonesia dan belahan bumi selatan.
Hal ini melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh Gama Tower.
Terletak di jantung kawasan superblok Thamrin Nine, Jakarta Pusat, tower ini menjelma sebagai landmark modern yang mencerminkan ambisi Jakarta menjadi kota global.
Dirancang oleh firma arsitektur internasional asal New York, Kohn Pedersen Fox Associates (KPF).
Autograph Tower hadir dengan balutan kaca reflektif futuristik yang menangkap cahaya matahari sekaligus memantulkan pesona metropolitan.
Tak sekadar estetis, bangunan ini juga mengantongi sertifikasi BCA Green Mark, berkat penggunaan material ramah lingkungan, efisiensi energi, dan kehadiran area hijau terbuka serta vertical garden sebagai bagian dari konsep keberlanjutan.
Autograph Tower bukan hanya struktur menjulang, tapi juga pusat aktivitas berkelas internasional.
Di dalamnya terdapat perkantoran Grade-A yang menjadi rumah bagi perusahaan multinasional, serta Hotel Bintang Enam Waldorf Astoria pertama di Indonesia, menawarkan layanan hospitality ultra mewah bagi para tamu domestik dan asing.
Pengunjung juga dapat menikmati observatory deck dengan pemandangan 360 derajat kota Jakarta, serta sky garden di puncak gedung sebagai ruang relaksasi yang memadukan teknologi dan alam.
Keunggulan lainnya adalah akses yang strategis, terhubung langsung dengan MRT Dukuh Atas, airport rail link, serta terkoneksi dengan Luminary Tower melalui podium ritel.
Tak hanya mencatat prestasi nasional dengan penghargaan Rekor MURI, Autograph Tower juga meraih Best Office Development (Asia) dari Property Awards Asia.
Bahkan, gedung ini masuk dalam daftar lima bangunan tertinggi di dunia yang rampung pada 2021, menjadikan Jakarta sejajar dengan megapolitan seperti New York dan Shanghai.
Kehadiran Autograph Tower merupakan bukti nyata bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, siap bersaing di kancah arsitektur dan pembangunan global.
Bukan hanya sebagai ikon kemegahan, tetapi sebagai simbol kemajuan teknologi, desain, dan komitmen terhadap keberlanjutan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni