Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dispora Malang Ambil Alih Pengelolaan Monumen dan Museum Tragedi Kanjuruhan, Wacana Dikelola Keluarga Korban Gagal Disepakati

Tulus Widodo • Minggu, 13 Juli 2025 | 17:11 WIB

 

Dispora Malang Kini Kelola Museum dan Monumen Tragedi Kanjuruhan
Dispora Malang Kini Kelola Museum dan Monumen Tragedi Kanjuruhan

RADARTUBAN – Setelah melalui tarik-ulur dan dinamika internal, pengelolaan museum dan monumen Tragedi Kanjuruhan akhirnya diputuskan berada di bawah kendali Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang.

Padahal sebelumnya, muncul wacana agar pengelolaan dilakukan oleh keluarga korban sebagai bentuk penghormatan langsung terhadap memori tragedi yang menewaskan ratusan suporter tersebut.

Namun rencana tersebut batal, lantaran tidak ada kesepakatan bulat di internal empat kelompok keluarga korban yang sama-sama mengklaim sebagai representasi sah dari pihak terdampak.

Menurut Lusiani Ferelia, Kabid Sarana dan Prasarana Dispora Kabupaten Malang, keluarga korban sempat mengusulkan agar museum saja yang mereka kelola secara mandiri, sementara monumen dibuka untuk publik umum.

“Koordinasi terakhir, keluarga korban memilih museum saja yang dikelola, sedangkan monumen dibuka untuk umum,” ujar Lusiani dilansir dari Radar Malang.

Namun, hasil rapat resmi bersama perwakilan empat kelompok keluarga korban pada Mei 2025 menetapkan bahwa pengelolaan museum dan monumen sepenuhnya di bawah Dispora Kabupaten Malang.

Monumen dan museum tragedi Kanjuruhan berdiri sebagai pengingat nasional atas insiden memilukan yang terjadi pada 1 Oktober 2022, ketika 135 orang meninggal dunia akibat kerusuhan usai laga Liga 1 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen.

Pendirian museum dan monumen ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, namun juga sebagai pusat edukasi, refleksi, dan advokasi atas pentingnya keselamatan dan etika dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola.

Meskipun pengelolaan jatuh ke tangan pemerintah daerah, Dispora Kabupaten Malang menegaskan bahwa keterlibatan keluarga korban tetap menjadi bagian integral dari agenda pengelolaan, baik dalam kurasi isi museum maupun pelaksanaan kegiatan peringatan.

“Kami tidak ingin meninggalkan suara keluarga korban. Museum ini harus tetap menjadi ruang kolektif memori, bukan hanya aset birokrasi,” ujar sumber dari internal Dispora.

Keputusan menyerahkan pengelolaan museum dan monumen Tragedi Kanjuruhan ke Dispora menjadi langkah final usai tarik-ulur wacana dari keluarga korban.

Meski sempat muncul aspirasi kuat dari pihak keluarga, konsolidasi internal yang belum solid membuat pemerintah daerah mengambil alih tanggung jawab.

Kini, tantangannya adalah memastikan tempat sakral ini tidak kehilangan makna memorialnya, dan benar-benar menjadi tempat edukasi dan penghormatan, bukan sekadar simbol kosong. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#arema fc #Tragedi Kanjuruhan #Monumen dan museum tragedi Kanjuruhan #arema fc vs persebaya surabaya #liga 1 #dispora #Malang