RADARTUBAN- Pengumuman 76 Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Tingkat Pusat Tahun 2025 pada 2 Juli lalu bukan sekadar seleksi formal. Ia adalah titik balik dalam perjalanan hidup para pemuda-pemudi pilihan dari seluruh penjuru negeri.
Mereka bukan hanya dipilih karena postur prima atau baris-berbaris sempurna, tetapi karena semangat, kegigihan, dan cinta mendalam terhadap bangsa.
Tahun ini, proses seleksi Capaska berlangsung ketat dan transparan, dimulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.
Dari lorong-lorong harapan itu, terpilihlah 76 anak muda terbaik yang akan mengibarkan Sang Merah Putih di Istana Negara pada 17 Agustus mendatang.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Firji Berg, remaja asal Sulawesi Utara. Ia mencatat sejarah sebagai putra pertama dari Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) yang lolos ke tingkat nasional.
Saat namanya diumumkan, tangis bahagia pecah di kampung halamannya. Firji tak hanya ingin menjadi bagian dari Capaska, ia bermimpi berdiri di barisan utama sebagai pengibar atau penggerek bendera pusaka.
“Saat diumumkan, semua menangis. Saya adalah anak Boltim pertama yang pernah lolos ke tingkat nasional,” ujar Firji penuh haru.
Berbeda lagi dengan kisah Thifaal Maahirah Atika dari Kepulauan Riau. Pengumuman kelulusannya sebagai Capaska pusat bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Baginya, ini bukan sekadar pencapaian, tapi kado terbaik sepanjang hidup.
“Saya sangat terharu dan bangga. Rasanya seperti mendapat kado terbaik di tahun ini,” ungkap Thifaal.
Seluruh Capaska 2025 kini telah memasuki masa pelatihan intensif di Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, yang diawali dengan prosesi simbolis memasuki “Desa Bahagia.”
Konsep ini merepresentasikan semangat persatuan dan komitmen kebangsaan. Dalam upacara tantingan, para Capaska diberi kesempatan untuk merenung dan menyatakan kesiapan penuh mengemban tugas negara.
Capaska bukan sekadar petugas pengibar bendera. Mereka adalah wajah masa depan bangsa—membawa harapan, menyalakan mimpi, dan menjadi bukti bahwa anak negeri bisa berdiri tegak di panggung tertinggi kebanggaan nasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni