RADARTUBAN – Momen tak terlupakan terjadi dalam gelaran Hoegeng Awards 2025 ketika Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., menyampaikan apresiasi luar biasa kepada para nominasi.
Tak sekadar pujian, Kapolri bahkan menawarkan bantuan langsung untuk memenuhi permintaan pribadi para nominasi yang dinilai telah menjalankan tugas melebihi panggilan kewajiban.
Salah satu momen paling mencuri perhatian datang dari sosok Aipda Rahmad Muhajirin, seorang Bhabinkamtibmas Ledok Kulon, Polres Bojonegoro.
Ketika diminta mengungkapkan harapan pribadinya, jawaban Rahmad justru mengundang gelak tawa para tamu undangan karena ia terlihat bingung memilih antara dua keinginan yang sama-sama penting baginya.
Namun alih-alih menyuruh memilih salah satu, Kapolri dengan sigap memutuskan untuk mengabulkan keduanya sekaligus.
Langkah Kapolri ini bukan sekadar simbolik. Mantan Kapolda Banten itu ingin menunjukkan bahwa institusi Polri hadir dan peduli secara nyata kepada para personelnya — terutama mereka yang telah menjunjung tinggi nilai integritas dan pengabdian kepada masyarakat, seperti yang diperlihatkan oleh para penerima nominasi Hoegeng Awards.
“Apa pun yang kalian minta, selama itu untuk kebaikan dan menyangkut tugas pengabdian kalian yang luar biasa, akan kami bantu wujudkan,” ujar Kapolri dikutip dari IG @divisihumaspolri.
Siapa Aipda Rahmad Muhajirin?
Aipda Rahmad dikenal luas di wilayah Bojonegoro sebagai sosok polisi yang dekat dengan masyarakat akar rumput.
Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari pendampingan warga kurang mampu, pemberdayaan pemuda, hingga inisiatif keamanan lingkungan berbasis komunitas.
Dedikasinya menjadi alasan kuat mengapa Aipda Rahmad layak masuk nominasi Hoegeng Awards — penghargaan paling bergengsi di tubuh Polri, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, integritas, dan pengabdian tanpa pamrih.
Aipda Rahmad Muhajirin menyampaikan dua permintaan konkret kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat sesi interaktif Hoegeng Awards 2025.
1. Kesempatan untuk anaknya masuk Polri
Rahmad menjelaskan bahwa anaknya telah tiga tahun mendaftar Bintara Polri, bahkan sempat mencapai tahap pantukhir, namun belum berhasil.
Ia berharap Kapolri bisa memberikan fasilitas atau peluang agar anaknya diterima jadi anggota Polri.
2. Kesempatan menempuh pendidikan lanjutan untuk kenaikan pangkat
Sebagai imbal balik atas dedikasinya, Rahmad meminta kesempatan mengikuti pendidikan lanjutan agar bisa naik pangkat di kemudian hari.
Permintaan ini langsung ditanggapi positif dan ditawarkan oleh Kapolri.
Kapolri kemudian menyatakan bahwa kedua permintaan tersebut akan diwujudkan—mulai dari prospek pendidikan tahun depan hingga membantu jalur khusus untuk anaknya masuk Polri.
Keputusan Kapolri yang memilih memenuhi dua permintaan sekaligus, bukan hanya menggambarkan fleksibilitas, tapi juga bentuk kepemimpinan humanis yang mulai tumbuh kuat dalam institusi kepolisian Indonesia.
Sikap ini menunjukkan bahwa apresiasi kepada anggota Polri tak hanya sebatas piagam atau medali, tapi juga realisasi nyata dalam bentuk dukungan dan perhatian langsung.
Langkah seperti ini penting untuk terus dikembangkan dalam semangat reformasi kultural di tubuh Polri, sebagaimana visi yang terus digaungkan Jenderal Sigit.
Ketika pemimpin memberi ruang dan dukungan kepada anggotanya yang berprestasi, maka motivasi, loyalitas, dan kualitas pelayanan publik Polri pun akan meningkat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni