Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kapolri Paling Lama Sepanjang Sejarah RI, Ini Jejak Emas RS Soekanto yang Jarang Diungkap

Tulus Widodo • Senin, 21 Juli 2025 | 18:05 WIB

 

Jenderal RS Soekanto, Kapolri pertama Indonesia yang menata ulang Polri dari nol dengan sistem komando nasional dan pendidikan tinggi kepolisian.
Jenderal RS Soekanto, Kapolri pertama Indonesia yang menata ulang Polri dari nol dengan sistem komando nasional dan pendidikan tinggi kepolisian.

RADARTUBAN – Tak banyak yang tahu, di balik megahnya institusi Kepolisian Republik Indonesia hari ini, ada satu nama yang berdiri sebagai fondasi awal.

Jenderal Pol (Purn) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo bukan hanya Kapolri pertama Indonesia, tapi juga Kapolri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah, yakni 14 tahun lebih — rekor yang belum pernah terpecahkan hingga kini.

Dilantik hanya sepekan setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya 29 September 1945, Soekanto kala itu masih berusia 37 tahun. Ia ditunjuk langsung oleh Presiden Soekarno untuk menata ulang tubuh kepolisian pasca-kekuasaan kolonial.

Saat diangkat, Polri belum punya kantor, seragam resmi, hingga komando nasional. Namun dari kondisi kosong itulah, Soekanto justru mencetak tonggak penting sejarah.

- Membentuk struktur komando nasional Polri yang terpisah dari militer.

- Mendirikan cikal bakal pendidikan tinggi kepolisian (kini STIK-PTIK).

- Memindahkan kantor pusat Polri ke Jl. Trunojoyo, Jakarta Selatan, yang masih digunakan hingga hari ini.

- Mengukuhkan Polri sebagai alat negara yang independen, bukan alat politik atau militer.

14 Tahun Pengabdian Penuh Tantangan

Selama dua kali pergantian kabinet, darurat militer, agresi Belanda, hingga masa transisi ke demokrasi parlementer, Soekanto tetap menjadi panglima di tubuh Bhayangkara.

Bahkan saat TNI dan Polri sempat disatukan dalam ABRI, polisi kelahiran 1908 itu bersikukuh mempertahankan posisi polisi sebagai penjaga keamanan sipil, bukan militer.

Masa jabatannya yang berlangsung hingga 14 Desember 1959 mencetak rekor: 14 tahun, 2 bulan, dan 15 hari menjabat tanpa jeda.

Soekanto mundur dengan hormat usai menyiapkan sistem yang mapan bagi generasi penerus.

Perbandingan Masa Jabatan Kapolri: Siapa Saja yang Mendekati?

RS Soekanto Tjokrodiatmodjo 29 Sep 1945 – 14 Des 1959 14 tahun 2 bulan 15 hari
Roesmanhadi 1998 – 2000 2 tahun

Tito Karnavian 14 Jul 2016 – 23 Okt 2019 3 tahun 3 bulan

Listyo Sigit Prabowo 27 Jan 2021 – sekarang ~ 3 tahun 6 bulan (per Juli 2025)

Dibanding era sekarang, rata-rata masa jabatan Kapolri hanya berkisar 2–4 tahun, menjadikan masa pengabdian Soekanto sebagai anomali sekaligus teladan historis.

Kenapa Soekanto Begitu Istimewa?

1. Arsitek Organisasi Polri – Ia membangun sistem dari nol, termasuk struktur, komando, pendidikan, dan fungsi hukum.

2. Stabilitas di Masa Transisi – Di tengah gejolak revolusi hingga masa RIS, ia menjaga agar institusi Polri tetap berdiri tegak.

3. Menjaga Independensi – Soekanto menolak Polri dijadikan alat politik, menegaskan posisi polisi sebagai penjaga sipil, bukan militeristik.


Jejak Sejarah yang Masih Terasa Hingga Kini

Hingga wafatnya pada tahun 1993, nama RS Soekanto tetap dikenang di tubuh Polri. Bahkan namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit Polri terbesar di Indonesia, RS Polri Kramat Jati – Jakarta Timur.

Lebih dari itu, prinsip yang ditanamkan Soekanto soal netralitas dan profesionalisme polisi masih relevan, terutama di era modern yang menuntut transparansi dan integritas tinggi dari aparat penegak hukum.

Soekanto tak sekadar bagian dari sejarah Polri. Suami Lena Mokoginta itu adalah pondasi yang membentuk wajah Polri hingga sekarang.

Kepemimpinannya selama 14 tahun jadi bukti bahwa keteguhan, visi jangka panjang, dan integritas tinggi adalah modal utama membangun institusi yang kuat — bahkan dari ruang kosong. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kapolri #Soekanto #independen #sejarah #tito karnavian #abri #Jakarta Selatan