RADARTUBAN - Kecelakaan laut tragis kembali mengguncang perairan Indonesia.
Kali ini datang dari KM Barcelona V yang terbakar di Perairan Talise, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Namun, yang lebih mengerikan dari tragedi ini bukan hanya insiden kebakaran kapal, melainkan jumlah korban yang sangat jauh melampaui data resmi di manifest kapal.
Data resmi yang dirilis oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dikutip dari JawaPos.com menunjukkan bahwa hingga Senin (21/7), total korban yang dievakuasi telah mencapai 571 orang — terdiri dari 568 penumpang selamat dan 3 korban meninggal dunia.
Fakta ini langsung menimbulkan tanya besar: bagaimana mungkin manifest kapal hanya mencatat 280 penumpang, namun korban mencapai dua kali lipat lebih?
Overload Penumpang atau Ada Permainan?
KM Barcelona V yang berlayar dari Pelabuhan Melonguane Talaud menuju Pelabuhan Manado, sempat singgah di Pelabuhan Lirung, sesuai jalur pelayaran resminya.
Dalam dokumen manifest yang dilaporkan, kapal hanya membawa 280 penumpang dan 15 Anak Buah Kapal (ABK). Namun, angka-angka dari proses evakuasi menunjukkan sebaliknya.
Menurut laporan resmi Basarnas, rincian evakuasi mencakup:
Pelabuhan Munte Likupang: 56 korban dievakuasi (1 meninggal dunia), terdiri dari 15 orang oleh RIB Basarnas, 33 orang oleh unsur lainnya, dan 8 orang lainnya dengan KN SAR Bima Sena.
Dermaga Bakamla Serei: 263 orang dievakuasi, dengan 2 di antaranya ditemukan meninggal.
Pelabuhan Manado: 198 orang dievakuasi oleh KM Barcelona III dan 4 orang oleh KM Express Bahari.
Data lapangan menunjukkan bahwa banyak korban tidak tercatat dalam sistem manifest resmi.
Bahkan, sejumlah korban mengaku naik tanpa tiket resmi, atau hanya dengan "surat jalan" dari calo pelabuhan.
Tragedi ini membuka kembali luka lama soal kedisiplinan dan integritas dalam sistem pelayaran nasional, terutama di wilayah kepulauan.
Dugaan adanya penumpang gelap, over kapasitas, serta lemahnya pengawasan saat boarding semakin kuat.
"Fakta ini sangat mengkhawatirkan. Kita bicara soal keselamatan nyawa manusia di laut, bukan sekadar angka. Jika benar kapal kelebihan muatan, maka ini pelanggaran serius yang harus ditindak tegas," tegas salah satu aktivis keselamatan transportasi laut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kantor SAR Manado masih terus melakukan proses penyisiran di lokasi kejadian.
Sementara itu, penyelidikan lebih lanjut tengah dilakukan guna mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas membengkaknya jumlah korban yang tidak sesuai manifest.
Insiden KM Barcelona V menjadi pengingat pahit bahwa sistem transportasi laut Indonesia masih menghadapi tantangan kronis: mulai dari pelanggaran prosedural, minimnya pengawasan, hingga lemahnya penegakan regulasi.
Tak hanya soal kelebihan kapasitas, tragedi ini menyoroti pentingnya digitalisasi dan transparansi manifest penumpang, serta peran aktif otoritas pelabuhan untuk mencegah hal serupa terulang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama