RADARTUBAN — Nama Low Tuck Kwong kini semakin bergema, bukan hanya sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2025, tapi juga karena kombinasi uniknya sebagai raja batu bara yang juga pencinta satwa.
Dengan kekayaan fantastis mencapai USD 27,7 miliar (sekitar Rp 457,1 triliun), pria kelahiran Singapura ini resmi masuk peringkat teratas daftar orang paling tajir di Tanah Air.
Sebagai pendiri PT Bayan Resources Tbk, Low menguasai salah satu konsesi batu bara terbesar di Indonesia, tepatnya di wilayah Tabang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Cadangan batu bara milik perusahaannya diperkirakan cukup untuk menopang produksi lebih dari tiga dekade ke depan—membuat Bayan Resources menjadi poros penting industri energi nasional.
Namun, ada sisi lain dari pengusaha satu ini yang jauh dari gambaran stereotype miliarder tambang.
Di tengah lahan tambangnya yang luas, Low Tuck Kwong membangun kebun binatang pribadi berisi ribuan hewan dari berbagai belahan dunia.
Koleksinya mencengangkan: mulai dari harimau, orangutan, beruang madu, owa, hingga burung merak dan buaya, bahkan burung unta, alpaka, kura-kura Brasil, dan kuda poni dari luar negeri.
Tak puas hanya mengoleksi, Low juga aktif dalam pelestarian satwa. Ia mendirikan pusat rehabilitasi orangutan, sebagai bentuk nyata kepeduliannya terhadap primata khas Kalimantan yang terancam punah.
Program ini fokus pada perawatan dan pelepasliaran kembali orangutan ke habitat alami mereka.
Perjalanan bisnis Low dimulai sejak awal 1970-an, saat ia hijrah ke Indonesia dan menjalankan usaha konstruksi keluarga.
Pada 1988, Low mengambil langkah besar dengan membeli tambang batu bara pertamanya melalui PT Gunung Bayan Pratama Coal.
Lalu, pada 2004, ia mengonsolidasikan semua asetnya ke dalam Bayan Resources, yang resmi IPO di Bursa Efek Indonesia pada 2008.
Ketekunan dan visinya membuatnya bertahan melewati naik-turunnya harga komoditas global.
Di tengah sorotan terhadap isu lingkungan dan transisi energi, Low justru mengambil jalur berbeda: menggabungkan bisnis tambang dengan konservasi satwa—sebuah pendekatan yang jarang dijumpai di industri ekstraktif Indonesia.
Langkah Low Tuck Kwong ini mengundang decak kagum, sekaligus pertanyaan besar: bisakah industri energi dan pelestarian alam berjalan berdampingan? Bagi Low, jawabannya jelas: bisa.
“Keberlanjutan bukan sekadar slogan. Kita bisa membangun bisnis besar tanpa mengorbankan alam dan satwa. Kuncinya ada pada kesadaran dan komitmen jangka panjang,” demikian pernyataannya dalam sebuah wawancara.
Dunia bisnis melihat sosok Low sebagai figur yang mampu menyeimbangkan profit dengan planet.
Di saat banyak korporasi berbicara soal ESG (Environmental, Social, and Governance), Low sudah mempraktikkannya jauh sebelum tren ini jadi sorotan.
Para investor global pun mulai melirik Bayan Resources, tak hanya karena kekuatan produksi batubaranya, tetapi juga karena nilai tambah dari praktik keberlanjutan yang dijalankan.
Low Tuck Kwong kini bukan sekadar ikon industri batu bara, tapi juga simbol pengusaha yang tidak melupakan tanggung jawab sosial dan ekologisnya.
Di tengah skeptisisme publik terhadap sektor tambang, pendekatan humanis dan ekologisnya memberi angin segar.
Apakah sosok seperti Low akan menjadi standar baru di dunia usaha Indonesia? Atau justru ia akan tetap jadi pengecualian langka di antara para pengusaha besar lainnya? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni