Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kementerian Agama Luncurkan Kurikulum Berbasis Cinta: Revolusi Pendidikan dengan Spirit Empati, Bukan Dogma

Tulus Widodo • Sabtu, 26 Juli 2025 | 00:21 WIB
Kementerian Agama RI luncurkan kurikulum berbasis cinta
Kementerian Agama RI luncurkan kurikulum berbasis cinta

RADARTUBAN — Pendidikan keagamaan di Indonesia memasuki babak baru yang lebih humanis dan beradab.

Kementerian Agama RI resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai jawaban strategis atas krisis kemanusiaan dan intoleransi yang kian mengkhawatirkan.

Peluncuran digelar penuh makna di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (24/7).

Kurikulum ini tidak sekadar instrumen pembelajaran, tetapi menjadi gerakan nasional pendidikan kasih sayang yang menyasar semua jenjang: dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Pendekatan KBC menekankan pada titik temu kemanusiaan, bukan perbedaan teologis yang memecah.

“Kita ingin menciptakan hegemoni sosial yang lebih elegan dan harmonis. Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi tanpa sadar justru menanamkan benih kebencian,” tegas Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dalam pidatonya yang mengundang renungan mendalam.

Menurut Nasaruddin, Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kegelisahan atas siklus kekerasan, kebencian, dan krisis empati yang terus berulang di tengah masyarakat modern.

Ia menegaskan, pendidikan adalah pintu perubahan sosial yang paling otentik dan abadi.

Dalam peluncuran ini, Menag secara simbolis menyerahkan panduan Kurikulum Cinta kepada sejumlah guru terpilih.

Dokumen itu akan menjadi dasar integrasi nilai-nilai cinta dan kasih dalam proses belajar, tidak hanya terbatas pada pelajaran agama, tetapi juga lintas mata pelajaran.

“Nanti akan ada buku pintarnya untuk tiap guru. Kita ingin anak-anak kita akrab, meski berbeda keyakinan. Tetap religius, tapi tidak eksklusif,” ungkap Menag.

KBC bukan hanya membentuk kecerdasan, tapi juga karakter dan kepekaan sosial.

Dalam skema ini, guru tidak lagi hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi menjadi fasilitator pembentukan jiwa—dengan pendekatan kasih sayang, empati, dan kepedulian ekologis.

Hadir dalam kegiatan peluncuran tersebut antara lain Dirjen Pendidikan Islam Prof. Suyitno, para rektor PTKIN, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenag, dan ratusan peserta secara luring dan daring dari seluruh Indonesia.

Langkah ini menandai bahwa KBC bukan sekadar seremonial, melainkan awal transformasi menyeluruh pendidikan Islam berbasis nilai-nilai cinta.

Setelah peluncuran, Kemenag akan melakukan sosialisasi intensif ke para pendidik di seluruh wilayah.

Materi ajar, metode pembelajaran, hingga perangkat pendukung akan disesuaikan agar implementasi KBC berjalan efektif dan tidak sekadar wacana.

Dengan KBC, Kemenag berharap dapat membentuk generasi inklusif yang toleran, tidak mudah tersulut provokasi, dan peduli terhadap sesama serta lingkungan.

Dari ranah kognitif menuju afektif dan aksi nyata sosial.

“Teologi ini harus bisa melahirkan logos yang hebat, lalu menjadi habit yang istimewa. Kalau ini terwujud, warna-warni perbedaan tak akan tampak norak. Kita akan disatukan oleh satu ikatan primordial: cinta,” pungkas Imam Besar Masjid Istiqlal itu. (*) 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#nasaruddin umar #pendidikan keagamaan #transformasi pendidikan islam moderat #Kurikulum Berbasis Cinta #KBC #krisis kemanusiaan #Kementerian Agama RI #menteri agama #pendidikan islam inklusif 2025