RADARTUBAN - AC Milan tampaknya tak main-main soal pengembangan talenta muda mereka.
Dalam kesepakatan peminjaman Francesco Camarda ke Lecce, Rossoneri menyertakan insentif finansial yang tak lazim demi memastikan sang wonderkid dapat jatah menit bermain maksimal di Serie A musim depan.
Menurut laporan eksklusif dari Gazzetta dello Sport dan jurnalis Orazio Accomando, Milan sepakat membayar €75.000 untuk setiap penampilan Camarda bersama Lecce di Serie A, serta €100.000 untuk setiap gol yang dicetaknya sepanjang musim.
Langkah ini jadi bukti keseriusan Milan dalam menjaga perkembangan striker muda 16 tahun itu yang musim lalu sempat mencetak rekor sebagai debutan termuda sepanjang sejarah Serie A.
Strategi Cerdas Rossoneri: Uang untuk Menit Bermain
Alih-alih sekadar melepas sang pemain dengan status pinjaman biasa, manajemen Milan memilih pendekatan yang lebih taktis: menyuntik Lecce dengan bonus performa agar klub itu termotivasi memberi Camarda jam terbang konsisten.
“Ini bukan cuma soal menit bermain, ini investasi jangka panjang Milan pada masa depan lini depan mereka,” tulis Gazzetta dalam laporannya.
Diketahui, Camarda akan menghabiskan musim 2025/26 di Lecce untuk mempercepat proses pematangan mental dan fisiknya lewat pengalaman di kompetisi level tertinggi.
Meski usianya masih sangat belia, potensi besar Camarda membuat Milan tak ingin talentanya stagnan di bangku cadangan.
Langkah Milan ini sejalan dengan strategi transfer Inter Milan terhadap pemain muda mereka, Valentin Carboni, yang dipinjamkan ke Genoa.
Dalam kesepakatan itu, Inter bersedia membayar hingga €1 juta dalam bentuk bonus, tergantung jumlah penampilan yang dicatatkan Carboni selama masa pinjaman.
Dua pendekatan ini menunjukkan bagaimana klub-klub elite Serie A mulai sadar bahwa menit bermain nyata jauh lebih berharga ketimbang sekadar status akademi atau pemain cadangan mewah.
Francesco Camarda telah lama disebut-sebut sebagai penerus generasi striker elite Italia.
Ketajamannya di level junior membuatnya dijuluki “The Italian Haaland”.
Milan menilai peminjaman ini adalah solusi terbaik untuk mengasah insting gol dan kematangannya sebelum kembali ke San Siro dengan status siap tempur.
Pendekatan Milan ini bisa menjadi preseden baru dalam transfer pemain muda: membayar klub peminjam berdasarkan performa pemain.
Jika berhasil, bukan tidak mungkin skema semacam ini akan jadi standar baru di Eropa untuk menjaga prospek muda tetap berkembang—dengan uang sebagai pemicu utama keputusan pelatih. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni