Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Media Asing Soroti Pengangguran Muda di Indonesia Ancaman Serius Kesejahteraan

Alifah Nurlias Tanti • Minggu, 27 Juli 2025 | 04:05 WIB
Lulusan muda Indonesia alami pengangguran tinggi
Lulusan muda Indonesia alami pengangguran tinggi

RADARTUBAN - Semakin hari, krisis kesejahteraan yang dialami anak muda Indonesia terasa makin nyata.

Banyak lulusan perguruan tinggi yang kini menghadapi kenyataan pahit lapangan kerja yang mereka idamkan begitu terbatas.

Dua tahun sudah berlalu sejak seorang anak muda Indonesia meraih gelar sarjana hukum.

Ia pernah berjuang keras di bangku kuliah, berharap gelarnya menjadi tiket menuju masa depan yang gemilang.

Menurut laporan Al-Jazeera pada Jumat (25/7), kisah pahit seorang lulusan muda Indonesia menggambarkan tantangan besar yang dihadapi generasi kini.

Setelah usahanya mengikuti seleksi CPNS kandas dan cita -citanya untuk menjadi calon jaksa belum terwujud, sekarang ia menetap di rumah orang tuanya.

Kisah getir sarjana muda itu cuma secuil dari ribuan riwayat senada di seantero Nusantara.

Data pemerintah menunjukkan bahwa sekitar 16 persen anak muda berusia 15 hingga 24 tahun tidak memiliki pekerjaan.

Angka ini mencemaskan—lebih dari dua kali lipat dibandingkan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.

Bagi banyak lulusan muda di Indonesia, mimpi untuk meraih karier gemilang terpaksa direvisi oleh kenyataan.

Tanpa cukup pilihan, sebagian dari mereka terpaksa mencari nafkah di sektor informal, meski jauh dari stabilitas dan perlindungan.

Lebih dari separuh tenaga kerja di Indonesia sekitar 56 persen masih menggantungkan hidupnya pada sektor informal.

Meskipun angka pengangguran terbuka menunjukkan penurunan, para ahli mengingatkan bahwa hal ini belum menandakan perbaikan yang sesungguhnya dalam kualitas pasar kerja.

Banyak yang telah menempuh pendidikan tinggi dengan penuh harapan, namun ketika lulus, kompetensi yang mereka miliki ternyata tak selaras dengan kebutuhan industri.

Isu ini tidak hanya terbatas pada ketidaksesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan.

Di Indonesia, program pelatihan vokasi dan pemagangan yang seharusnya menjadi jembatan bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional masih sangat terbatas.

Presiden Prabowo Subianto menyadari betul isu kemiskinan yang ada. Sebagai tanggapannya, beliau membentuk tim khusus yang bertugas menciptakan lebih banyak peluang kerja.

Sayangnya, sampai saat ini berbagai macam aturan yang sudah dibuat sepertinya belum terlalu berdampak langsung pada kehidupan anak muda.

Impian tentang adanya perbaikan pun masih belum terwujud.

Kesenjangan wilayah juga memperburuk situasi. Akses terhadap pekerjaan layak jauh lebih sulit di luar Pulau Jawa.

Meski sudah menyandang gelar sarjana dan memiliki pengalaman kerja tambahan, seorang lulusan muda di Indonesia masih harus menghadapi kenyataan pahit: peluang kerja yang sangat terbatas.

Harapannya untuk bisa memulai karier, sekecil apa pun, tak kunjung terwujud. Bahkan ketika ia melamar posisi sebagai pengisi ulang ATM pekerjaan yang jauh dari impiannya lamarannya tetap tak mendapat respons. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Pengangguran muda #krisis kesejahteraan #media asing #nak muda #lulusan perguruan tinggi #seleksi cpns #lapangan kerja