RADARTUBAN — Di dunia sepak bola modern yang kian dikuasai uang dan kontrak bernilai jutaan euro, kisah tentang kesetiaan sejati menjadi barang langka.
Tapi nama Rui Costa adalah pengecualian yang indah. Mantan maestro lini tengah asal Portugal ini membuktikan bahwa janji, cinta klub, dan loyalitas bukan hanya omong kosong dalam wawancara media.
Kisahnya dimulai di Benfica, klub masa kecilnya, tempat pria yang memiliki nama lengkap Rui Manuel César Costa itu tumbuh dan berkembang menjadi gelandang visioner penuh kelas.
Namun pada 1994, Benfica tengah dihantam krisis finansial parah. Demi menyelamatkan stabilitas klub, mereka terpaksa menjual sang bintang, setelah berdiskusi langsung dengan sang pemain.
Saat itu, Barcelona sudah berada di garis depan untuk mengamankan tanda tangan Rui Costa. Tapi di detik-detik akhir, muncul tawaran dari Fiorentina yang memberikan nilai kontrak lebih besar.
Bukan hanya tentang uang, tapi juga tentang proyek sepak bola yang cocok untuk sang gelandang kreatif.
Dan benar saja, Italia menjadi panggung yang sempurna. Bersama Gabriel Batistuta, ia membentuk duet yang menakutkan.
Assist demi assist mengalir deras dari kakinya ke jaring gawang lawan. Serie A yang saat itu penuh bintang pun mengakui: Rui Costa adalah seniman di lapangan hijau.
Tahun 2001, Rui Costa hijrah ke raksasa Serie A lainnya: AC Milan. Di San Siro, pria kelahiran Maret 1972 itu bukan hanya pemain top—ia menjadi otak permainan Rossoneri, membantu Milan merebut Serie A dan Liga Champions.
Namanya kian harum di Eropa, namun satu hal yang tidak berubah: Rui Costa belum lupa janji kepada Benfica: dia akan kembali.
Setelah menuntaskan misi kejayaan di Italia, Rui Costa akhirnya menepati janjinya. Pada 2006, pemain yang mencatatkan 94 caps di Timnas senior Portugal itu menghubungi presiden Benfica.
Presiden berkata: "Baik, Rui. Kita akan bertemu dan mendiskusikan kontrak dan gajimu."
Dan jawaban Rui Costa justru membuat siapa pun yang mendengarnya merinding:
"Bayar aku berapa pun yang kau mau. Terserah kau. Tidak masalah."
Rui Costa kembali sebagai pemain Benfica di usia 34 tahun, bukan untuk uang, bukan untuk sorotan media, tapi karena cinta.
2021: Dari Janji Pemain, Menjadi Pemimpin Klub
Tak berhenti di sana. Pada 2021, Rui Costa mencatat sejarah baru: ia resmi menjadi Presiden Benfica.
Dari pemain muda jebolan akademi, menjadi pemain top Eropa, hingga kini mengomandoi klub dari balik meja direksi.
Pria kelahiran Amadora, Portugal itu bukan sekadar legenda yang kembali, tapi teladan kesetiaan dalam sepak bola modern.
Rui Costa membuktikan bahwa sepak bola bukan sekadar angka di kontrak. Kisah hidupnya adalah simbol bahwa janji kepada klub masa kecil bisa ditepati—bahkan setelah melewati belasan tahun, puluhan trofi, dan miliaran euro yang ditawarkan.
Kini, sebagai presiden Benfica, ia menulis bab baru dalam buku setianya. Dan dunia sepak bola… hanya bisa angkat topi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama