Pangkat tertinggi dalam sejarah militer Indonesia ini hanya diberikan kepada tiga tokoh monumental yang berperan besar dalam kemerdekaan dan pertahanan negara. Siapa saja mereka?
RADAR TUBAN – Tak banyak yang tahu, dalam sejarah panjang Tentara Nasional Indonesia (TNI), hanya ada tiga tokoh legendaris yang pernah menyandang pangkat tertinggi: Jenderal Bintang Lima atau Jenderal Besar.
Gelar ini bukan sekadar simbol pangkat, melainkan bentuk penghormatan negara atas jasa luar biasa mereka dalam membela tanah air.
Tidak sembarang prajurit bisa mencapainya—dan belum pernah ada lagi yang dianugerahi setelah mereka.
Apa Itu Pangkat Bintang Lima?
Pangkat Bintang Lima atau Jenderal Besar (TNI AD), Laksamana Besar (TNI AL), dan Marsekal Besar (TNI AU) merupakan pangkat kehormatan tertinggi di militer Indonesia.
Posisinya berada di atas semua jenderal aktif, dan bersifat tetap seumur hidup.
Tidak ada promosi lebih tinggi, dan hanya diberikan untuk tokoh yang berjasa luar biasa dalam sejarah militer dan kemerdekaan RI.
Siapa Saja Tiga Tokoh Legendaris Itu?
1. Sudirman – Jenderal Besar TNI AD
Panglima Besar Sudirman adalah ikon perjuangan kemerdekaan.
Di usia muda, ia memimpin gerilya menghadapi agresi militer Belanda dengan kondisi fisik yang sangat lemah karena penyakit.
Diberi pangkat Jenderal Besar TNI pada era Presiden Soekarno, namanya diabadikan sebagai simbol semangat TNI.
2. A.H. Nasution – Jenderal Besar TNI AD
Sebagai tokoh militer dan intelektual, Abdul Haris Nasution dikenal sebagai perumus doktrin perang rakyat semesta.
Nasution pernah menjadi Menteri Pertahanan, Panglima ABRI, hingga Ketua MPRS.
Kiprahnya dalam mengonsolidasi TNI menjadikannya salah satu arsitek kekuatan militer Indonesia.
3. Soeharto – Jenderal Besar TNI AD
Presiden kedua RI ini juga dianugerahi pangkat Jenderal Besar atas perannya dalam menumpas G30S/PKI dan membangun kekuatan militer Indonesia di masa Orde Baru.
Selama lebih dari tiga dekade, Soeharto memimpin Indonesia dan mengembangkan TNI sebagai kekuatan strategis nasional.
Ketiganya berasal dari matra Angkatan Darat (TNI AD).
Hingga kini, belum ada tokoh dari matra laut maupun udara yang mendapat gelar Laksamana Besar atau Marsekal Besar, meski tanda pangkat tersebut telah resmi ada dalam struktur TNI.
Mengapa Ini Penting?
1. Langka & Bersejarah – Tanda kehormatan ini tak diberikan sembarangan. Butuh jejak pengabdian luar biasa dan peran monumental dalam menjaga kedaulatan negara.
2. Inspiratif bagi Generasi Muda – Keteladanan dari tiga tokoh ini bisa jadi rujukan moral dan nasionalisme bagi generasi prajurit masa depan.
3. Simbol Persatuan dan Ketahanan Bangsa – Mereka adalah pengingat akan perjuangan panjang bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari ancaman dalam dan luar negeri.
4. Menegaskan Posisi TNI dalam Sejarah Republik – TNI bukan sekadar alat negara, tapi bagian dari sejarah panjang perjuangan nasional.
Pangkat Jenderal Besar tidak aktif secara operasional. Artinya, mereka tak terlibat dalam komando lapangan namun tetap menjadi simbol supremasi militer.
Sampai 2025, belum ada perwira tinggi aktif atau purnawirawan lain yang diberi pangkat serupa.
Pemberian pangkat ini dilakukan melalui Keputusan Presiden, dan bersifat sangat selektif.
Tiga nama itu—Sudirman, Nasution, dan Soeharto—tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tapi juga tertanam kuat dalam identitas TNI dan republik ini.
Gelar Jenderal Besar bukan sekadar lambang pangkat, melainkan pengakuan atas kepahlawanan sejati yang tak ternilai. (*)
Editor : Amin Fauzie