RADARTUBAN- Dua siswi SMKN 1 Gowa yang sempat viral di media sosial karena terekam mengacungkan jari tengah ke arah guru di dalam kelas kini harus menghadapi kenyataan pahit mereka resmi dikeluarkan (drop out/DO) dari sekolah.
Sebelum keputusan dikeluarkan secara resmi, kedua siswi itu sempat menunjukkan memberikan video klarifikasi.
Dengan wajah yang dipenuhi penyesalan, mereka melangkah ke sekolah, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Di hadapan para guru dan pihak sekolah.
Video yang memperlihatkan aksi tak pantas itu menyebar cepat di media sosial, memancing reaksi keras dari para guru, alumni, warganet, hingga masyarakat umum.
Banyak pihak merasa kecewa dan turut prihatin.
Mereka merasakan bahwa tindakan itu bukan sekadar sebuah kesalahan biasa.
Bagi mereka, peristiwa ini juga mencoreng nama baik sekolah yang selama ini dijaga dengan penuh dedikasi dan kebanggaan.
Kepala UPT SMKN 1 Gowa, Muchlis Jufri, membenarkan bahwa kedua siswi telah memenuhi panggilan pihak sekolah pada Jumat (1/8).
Dalam suasana yang penuh haru dan ketegangan, mereka menyampaikan klarifikasi atas tindakan yang telah terjadi, sekaligus memohon maaf secara tulus kepada guru dan pihak sekolah.
"Keduanya sudah datang dengan penuh penyesalan dan menyampaikan permintaan maaf, tidak hanya kepada guru dan pihak sekolah, tetapi juga kepada para alumni dan masyarakat yang merasa tersakiti oleh tindakan mereka," ujar Muchlis.
Masih duduk di bangku kelas X, dua siswi berinisial R dan N yang masing-masing terlibat sebagai pelaku dan perekam sekaligus penyebar video datang ke sekolah dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa cemas dan penyesalan.
Mereka disambut di ruang kepala sekolah, dengan pendampingan dari wakil kepala sekolah dan perwakilan komite.
Hal serupa juga diungkapkan oleh N, yang merekam aksi temannya.
Dengan nada penuh penyesalan, dia mengakui bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kekhilafan yang tak seharusnya terjadi.
“Semoga saya dimaafkan. Tindakan saya juga telah mencoreng nama sekolah ini,” kata N.
Langkah ini bukan diambil dengan ringan hati, melainkan sebagai keputusan final setelah mempertimbangkan berbagai desakan dari masyarakat, warganet, dan para alumni yang berharap ada efek jera.
"Kami berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi siswa lainnya, agar lebih bijak dalam bersikap dan berpikir sebelum bertindak terlebih di era digital yang serba cepat dan mudah tersebar," ujar Muchlis.
Di balik satu tindakan kecil yang tampak sepele, tersembunyi dampak besar yang bisa melukai nama baik sekolah dan menggoyahkan kepercayaan masyarakat.
Kadang, hal kecil yang kita anggap biasa justru meninggalkan jejak yang dalam. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama