RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat kontroversi setelah memecat Komisioner Statistik Tenaga Kerja, Erika McEntarfer, menyusul rilis data yang menunjukkan penurunan pertumbuhan lapangan kerja di AS.
Keputusan ini diambil hanya beberapa jam setelah laporan resmi dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) menunjukkan angka pertumbuhan lapangan kerja yang jauh di bawah harapan, bahkan terjadi revisi penurunan pada data bulan-bulan sebelumnya.
Trump secara terbuka meluapkan kemarahannya di media sosial Truth Social.
Dia menuding McEntarfer telah menyajikan data palsu yang merugikan citranya dan berkata bahwa data tersebut tidak mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.
Dia juga mengklaim bahwa masih banyak pertumbuhan ekonomi yang positif, meski data resmi menunjukkan sebaliknya.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan ingin mengganti pejabat yang ia sebut sebagai “politisi Biden” dengan sosok yang lebih profesional dan berkualitas.
Pihak BLS sendiri telah mengonfirmasi pemecatan tersebut melalui pernyataan resmi dan menyampaikan bahwa posisi McEntarfer untuk sementara diisi oleh William Wiatrowski, seorang pejabat senior di biro tersebut.
Pemecatan mendadak ini mengejutkan banyak kalangan, mengingat McEntarfer dikenal sebagai ekonom non-partisan dengan pengalaman lintas pemerintahan, termasuk pada masa George W. Bush, Barack Obama, Trump sendiri, dan Joe Biden.
Pengamat ekonomi dan asosiasi statistik ramai-ramai mengkritik langkah Trump.
Mereka menilai pemecatan ini adalah bentuk upaya menyingkirkan “pembawa pesan” atas hasil data yang tidak menguntungkan bagi presiden, dan dikhawatirkan akan menimbulkan ketidakpastian serta merusak integritas data ekonomi nasional di masa mendatang.
Langkah Trump ini juga mendapat kecaman dari sejumlah pihak yang menilai bahwa memainkan data ekonomi demi kepentingan politik hanya akan berdampak buruk bagi masyarakat dan memicu krisis kepercayaan terhadap institusi pemerintah. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama