RADARTUBAN — Pertanian diprediksi akan kembali menjadi profesi yang diminati hingga tahun 2030, seiring dengan melonjaknya permintaan pangan global.
Kondisi ini dipicu oleh prediksi populasi dunia yang akan mencapai puncaknya di angka 10,3 miliar jiwa pada tahun 2080-an.
Menurut laporan World Resources Institute (WRI), dunia perlu menutup kesenjangan pangan global (food gap) sebesar 56% pada tahun 2050 agar seluruh populasi bisa terpenuhi kebutuhan makannya.
Fakta ini menunjukkan bahwa sektor pertanian akan kembali menjadi ujung tombak dalam menjawab tantangan masa depan.
Namun, transformasi ke arah pertanian modern masih menghadapi tantangan besar, terutama bagi generasi muda.
Presiden World Farmers' Organisation, Arnold Puech Pays d’Alissac, menyoroti bahwa minat anak muda terhadap pertanian bisa meningkat jika tiga faktor penting terpenuhi: pelatihan, akses lahan, dan pembiayaan yang terjangkau.
“Banyak petani yang akan pensiun. Ini membuka peluang besar bagi generasi muda,” ujar d’Alissac.
Untuk mendorong perubahan, World Economic Forum (WEF) juga meluncurkan inisiatif bernama “100 Million Farmers”.
Program ini bertujuan memfasilitasi transisi menuju pertanian berkelanjutan dan tangguh iklim, dengan fokus utama pada perbaikan kualitas tanah serta akses pembiayaan bagi petani kecil.
Dengan meningkatnya kebutuhan global dan terbukanya peluang regenerasi petani, pertanian kini bukan lagi sekadar profesi jadul, melainkan ladang masa depan yang potensial—terutama bagi generasi muda yang ingin berkontribusi nyata bagi bumi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni