RADARTUBAN – Isu kesejahteraan pemain sepak bola Indonesia kembali mencuat, kali ini dengan gebrakan konkret dari Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Dalam pertemuan strategis dengan jajaran Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), Erick tak cuma bicara soal kompetisi sehat — tapi juga menyentuh akar persoalan: jaminan hidup pemain setelah pensiun.
Pertemuan itu dihadiri langsung oleh Presiden APPI Andritany Ardhiyasa, Wakil Presiden Achmad Jufriyanto, serta sejumlah pengurus lain.
Agenda mereka bukan basa-basi: membahas struktur liga yang sehat, penggunaan VAR, hingga rancangan program dana pensiun pertama di Indonesia bagi pemain sepak bola profesional.
Dalam pernyataannya, Erick menegaskan pentingnya membangun ekosistem sepak bola yang tidak hanya kompetitif di lapangan, tapi juga kuat secara finansial.
“Dengan kehadiran VAR di Super League (Liga 1) dan Championship (Liga 2), kami ingin menghadirkan persaingan yang adil dan transparan.
Klub yang bertarung dalam sistem yang sehat akan lebih mudah menciptakan stabilitas keuangan dan memberikan gaji layak bagi pemain,” tulis Erick di akun Instagram pribadinya.
Yang paling mencuri perhatian adalah pembahasan soal dana pensiun untuk pemain.
Gagasan ini belum pernah benar-benar direalisasikan di ranah sepak bola nasional.
Jika terealisasi, Indonesia akan menjadi salah satu pionir di Asia Tenggara dalam memberikan perlindungan pasca-karier kepada pemain.
“Kami juga mendiskusikan program dana pensiun. Dana ini dirancang untuk memberikan manfaat nyata kepada para pemain setelah mereka gantung sepatu. Bukan sekadar janji, tapi sistem yang siap digerakkan,” kata mantan bos Inter Milan itu.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi pemain selama aktif memperkuat klub dan timnas.
Tak sedikit pemain yang setelah pensiun justru mengalami kesulitan ekonomi, karena tidak adanya jaminan finansial jangka panjang.
APPI menyambut hangat langkah ini. Menurut Andritany dan Jufriyanto, dana pensiun adalah kebutuhan mendesak yang selama ini absen dalam regulasi sepak bola Indonesia.
Mereka berharap, wacana ini segera ditindaklanjuti dengan kebijakan resmi yang mengikat klub dan federasi.
Isu ini bukan sekadar soal pertandingan, skor, atau transfer pemain. Ini soal masa depan para atlet yang selama ini mengorbankan tenaga dan kesehatan demi kejayaan klub.
Jika benar terealisasi, program dana pensiun ini akan menjadi landasan baru untuk mewujudkan sepak bola Indonesia yang lebih manusiawi, profesional, dan berkelanjutan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama