RADARTUBAN – Gelombang manusia yang melintasi batas negara demi kehidupan yang lebih layak tak pernah surut.
Laporan terbaru dari United Nations Population Division tahun 2024 mencatat, Amerika Serikat masih menjadi magnet utama dunia, dengan lebih dari 52 juta imigran tinggal dan bekerja di Negeri Paman Sam.
Angka fantastis ini menjadikan AS sebagai negara dengan populasi imigran terbesar di dunia, jauh mengungguli Jerman (16,75 juta) dan Arab Saudi (13,68 juta) yang berada di posisi dua dan tiga.
Imigrasi global kini bukan hanya soal eksodus ekonomi, tapi juga soal arah peradaban.
Negara-negara seperti Amerika, Jerman, hingga Arab Saudi menunjukkan bahwa daya tarik bukan semata karena uang, tapi juga sistem sosial, kebijakan migrasi, hingga persepsi publik terhadap "masa depan".
Amerika Serikat misalnya, dikenal dengan kesempatan kerja yang luas, kualitas pendidikan tinggi, serta jaminan hak sipil.
Sementara Jerman membuka keran migrasi lewat kebijakan tenaga kerja terampil dan sistem pelatihan vokasi yang terintegrasi.
Keberadaan Arab Saudi (13,68 juta) dan Uni Emirat Arab (8,16 juta) dalam daftar juga menarik dicermati.
Meski bukan negara demokrasi liberal, keduanya menjadi poros migrasi ekonomi kawasan Timur Tengah, berkat proyek infrastruktur raksasa dan kebutuhan tenaga kerja masif, terutama di sektor konstruksi, teknologi, dan layanan.
Sementara itu, Mesir (9,99 juta) juga mencatat lonjakan jumlah imigran berkat posisinya sebagai penghubung antara Afrika, Asia, dan Eropa.
Top 12 Negara dengan Imigran Terbanyak (2024):
1. Amerika Serikat – 52,38 juta
2. Jerman – 16,75 juta
3. Arab Saudi – 13,68 juta
4. Prancis – 11,99 juta
5. Inggris – 11,85 juta
6. Mesir – 9,99 juta
7. Spanyol – 8,87 juta
8. Kanada – 8,81 juta
9. Uni Emirat Arab – 8,16 juta
10. Rusia – 7,61 juta
11. Australia – 7,11 juta
12. Turki – 7,08 juta
Fenomena ini juga menunjukkan ketimpangan global yang semakin tajam.
Negara-negara maju dan berkembang pesat menjadi tujuan utama, sementara negara asal para migran (banyak dari Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin) justru semakin kehilangan SDM produktifnya.
“Mereka pergi bukan karena ingin, tapi karena harus,” ujar seorang peneliti migrasi global asal India.
Ia menekankan pentingnya kebijakan migrasi yang adil, aman, dan bermartabat.
Meski tak masuk daftar 12 besar, Indonesia justru banyak menjadi negara asal migran, terutama ke Malaysia, Timur Tengah, dan Hong Kong.
Data ini harus jadi bahan refleksi serius bagi pemerintah untuk memperbaiki kualitas hidup dalam negeri agar anak bangsa tak perlu "mengadu nasib" ke luar negeri demi sesuap nasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni