RADARTUBAN – Duel yang mempertemukan Persib Bandung dengan klub asal Filipina, Manila Digger, di babak playoff AFC Champions League Two (ACL 2), Rabu (13/8) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), bukan sekadar pertandingan antar dua tim.
Ini adalah pertemuan dua dunia yang berbeda — tradisi panjang sepak bola Indonesia melawan ambisi klub pendatang baru Asia Tenggara.
Persib lahir pada 14 Maret 1933 dan sudah mencatat segudang prestasi. Maung Bandung adalah 5 kali juara Perserikatan dan 4 kali juara Liga Indonesia, plus pernah beberapa kali mencicipi kompetisi level Asia.
Bandingkan dengan Manila Digger, klub yang baru berdiri pada 2018 dan baru sekali mencatat prestasi besar — runner-up Liga Filipina 2024/25.
Jika bicara stadion, Persib punya GBLA berkapasitas 38 ribu penonton, sedangkan Manila Digger bermarkas di Emperador Stadium dengan kapasitas hanya 2 ribu penonton.
Soal dukungan suporter? Jaraknya bak bumi dan langit. Persib punya jutaan pengikut di media sosial (Instagram 8,7 juta, Facebook 9,8 juta, X 5,17 juta, TikTok 5,8 juta). Manila Digger? Angkanya bahkan belum menyentuh puluhan ribu.
Perbedaan ini juga dipengaruhi fakta bahwa di Filipina, sepak bola masih kalah pamor dibanding basket dan tinju. Namun, jumlah penggemar bukanlah jaminan di atas lapangan.
Meski kalah jauh dalam sejarah, tradisi, dan basis massa, Manila Digger tidak datang ke Bandung untuk sekadar menjadi pelengkap.
Klub ini membuktikan kekuatannya dengan finis sebagai runner-up Liga Filipina musim lalu dan memastikan tiket ke playoff ACL 2.
Pelatih Persib Bojan Hodak tentu paham bahwa laga satu leg seperti ini sangat rawan kejutan.
Sebuah kesalahan kecil bisa mengubah segalanya, apalagi tim tamu dipastikan tampil lepas tanpa beban.
Bagi Persib, kemenangan di laga ini bukan hanya soal tiket ke fase grup ACL 2, tetapi juga mempertahankan reputasi Indonesia di kancah Asia.
Dengan dukungan penuh Bobotoh di GBLA, Maung Bandung diharapkan tampil garang sejak menit awal untuk memastikan lawan tak punya ruang berkembang.
Kick-off akan menjadi saksi: apakah sejarah dan tradisi cukup untuk menundukkan ambisi muda, atau justru Manila Digger yang pulang dengan cerita heroik dari Bandung. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni