RADARTUBAN - Pemerintah Indonesia resmi mengubah sistem pendidikan dokter spesialis menjadi berbasis rumah sakit, mengikuti model yang telah lama diterapkan di Amerika Serikat.
Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, sebagai bagian dari strategi percepatan pemenuhan kebutuhan tenaga medis nasional.
Langkah ini diambil untuk menjawab arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan 70 ribu dokter spesialis dalam waktu lebih cepat dari proyeksi awal 10–15 tahun.
Menkes Budi menyebut bahwa sistem berbasis rumah sakit memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman klinis langsung, sekaligus mempercepat masa pendidikan tanpa mengorbankan kualitas lulusan.
“Di negara-negara maju, pendidikan dokter spesialis memang dilakukan di rumah sakit. Kita ingin mengadopsi sistem itu agar lebih efisien dan berdampak langsung,” ujar Budi dalam kuliah umum di Universitas Negeri Padang, Senin (11/8).
Program ini dikenal sebagai PPDS Hospital Based, dan telah diluncurkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada Mei 2024.
Pemerintah juga menggandeng lembaga akreditasi internasional seperti ACGME (Accreditation Council for Graduate Medical Education) untuk memastikan standar pendidikan setara dengan rumah sakit top dunia seperti Mayo Clinic dan Johns Hopkins.
Selain mempercepat kelulusan, sistem ini juga dirancang untuk mendistribusikan dokter spesialis ke daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
Lulusan program ini bahkan dijanjikan akan langsung diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) jika bersedia mengabdi di wilayah 3T.
Namun, kebijakan ini juga menuai sorotan. Sejumlah kalangan mengkhawatirkan bahwa percepatan pendidikan berbasis rumah sakit berisiko melahirkan tenaga medis di bawah standar jika tidak diawasi ketat.
Menkes Budi menegaskan bahwa peserta PPDS bukan mahasiswa biasa, melainkan residen yang sudah memiliki dasar kuat sebagai dokter umum.
Saat ini, rasio dokter spesialis di Indonesia masih tergolong rendah, yakni 0,28 per 1.000 penduduk, dengan produksi hanya sekitar 2.700 dokter spesialis per tahun.
Distribusinya pun tidak merata, di mana 59 persen lulusan masih terpusat di Pulau Jawa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni