RADARTUBAN - Tembus views hingga 74 juta penonton di YouTube, perayaan HUT ke-80 RI diwarnai momen meriah saat lagu viral Tabola Bole dinyanyikan di Istana Merdeka.
Fenomena tersebut menjadi momen unik bagi para tamu undangan yang hadir nampak suasana berhasil di cairkan saat lagu tersebut diputar, serta mendadak viral di media sosial.
Presiden Prabowo Subianto tampak begitu menikmati lantunan lagu Tabola Bole, dengan ekspresi santai dan senyum yang lepas Prabowo nampak bergoyang mengikuti irama lagu tersebut.
Lagu Tabola Bole juga berhasil menambah daftar panjang momen unik di dalam perjalanan dunia musik Indonesia.
Sebelumnya lagu Tabola Bole dibawakan oleh Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel dan telah meraup lebih dari 74 juta tayangan di kanal YouTube.
Lagu Tabola Bole sendiri viral dan dikenal oleh publik pertama kali di media sosial TikTok.
Lagu Tabola Bole juga menjadi contoh bahwa musik dengan lirik serta irama khas timur dapat menjangkau audiens hingga lintas generasi, anak muda, dan tokoh bangsa.
Yang membuat lagu ini menarik adalah penggunaan lirik campuran antara dialek Timur Nusantara dan bahasa Minang. Perpaduan tersebut menghadirkan nuansa unik sekaligus memperkaya warna musik Indonesia.
Dari sisi makna, lagu ini bercerita tentang seorang “kakak” yang begitu kagum pada sosok adik perempuannya.
Dia bahkan digambarkan sampai susah tidur karena pesona sang adik yang kian cantik.
Dalam bagian rap, sosok adik disebut-sebut bak “bidadari timur” yang membuat sang kakak jatuh hati dan berharap bisa meminangnya.
Namun, dalam bait berbahasa Minang, si adik justru menolak perhatian berlebihan sang kakak.
“Ondeh uda, jan baitu bana. Denai ko indaklah nan sarupo itu,” begitu bunyi liriknya, yang berarti permintaan agar si kakak tidak bersikap berlebihan, meski sebenarnya tersirat adanya rasa suka yang ia sembunyikan.
Fenomena Tabola Bale membuktikan bahwa musik dengan sentuhan budaya daerah masih memiliki daya tarik besar di tengah arus industri digital.
Tak hanya enak didengar, lirik yang sarat emosi juga membuatnya mudah diterima lintas generasi dan daerah. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama