RADARTUBAN — Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 4,7 mengguncang wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta, hingga terasa di Jakarta pada Rabu (20/8) malam pukul 19.54 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episenter gempa berada di tenggara Kabupaten Bekasi dengan kedalaman 10 kilometer.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid, menjelaskan gempa ini dipicu oleh pergerakan sesar naik pada zona Sesar Baribis.
“Analisis parameter sumber gempa bumi menunjukkan bahwa gempa ini diakibatkan oleh sesar naik pada zona Sesar Baribis,” ungkap Wafid di Bandung, Rabu, dikutip dari Antara.
Namun, BMKG menyebut gempa berasal dari aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat (West Java Back Arc Thrust).
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan, “Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal yang dipicu oleh sumber gempa Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat.”
Badan Geologi mencatat gempa ini dirasakan dengan intensitas III–IV MMI di Bekasi, serta III MMI di Jakarta, Purwakarta, Depok, Cikarang, dan Bandung.
Meski masuk kawasan rawan bencana gempa bumi menengah, gempa ini tidak berpotensi tsunami karena sumbernya berada di darat.
Selain itu, tidak ditemukan tanda bahaya ikutan seperti retakan tanah, penurunan lahan, longsor, maupun likuefaksi.
Struktur Sesar Baribis sendiri diperkirakan membentang sepanjang 100 kilometer, terbagi menjadi beberapa segmen.
Segmen Jakarta melintas di sisi selatan Ibu Kota, sedangkan segmen Bekasi–Purwakarta di timur tercatat lebih aktif.
Pusat gempa berada di wilayah dengan kondisi geologi yang didominasi batuan sedimen Tersier, batuan gunung api Kuarter, serta endapan aluvium muda. Kehadiran tanah lunak di wilayah tersebut memperkuat guncangan.
“Secara umum, kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan berumur muda atau yang telah mengalami pelapukan memiliki kekerasan lebih rendah,” jelas Wafid.
Berdasarkan data tapak lokal (Vs30), wilayah pusat gempa dikategorikan dalam kelas tanah C (sangat padat dan batuan lunak), D (tanah sedang), dan E (tanah lunak).
Badan Geologi mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, memeriksa kondisi bangunan, menghindari lereng rawan longsor, serta membangun rumah dengan kaidah tahan gempa.
Warga juga diminta tidak mudah percaya isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan khususnya soal gempa dan tsunami. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni