Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tragedi Balita 3 Tahun di Sukabumi, Raya Meninggal Dunia Akibat Infeksi Cacing Parah dan Terlambat Ditangani

Dyah Ayu Oktiara Putri • Kamis, 21 Agustus 2025 | 22:45 WIB
Raya, balita asal sukabumi yang meninggal
Raya, balita asal sukabumi yang meninggal

RADARTUBAN- Kisah tragis datang dari seorang balita berumur 3 tahun bernama Raya, balita tersebut meninggal dunia pada Jum’at 22 Juli 2025 di ruang PICU RSUD R. Syamsudin SH setelah ditemukan banyak cacing memenuhi sekujur tubuhnya.

Balita perempuan berumur 3 tahun tersebut merupakan anak kedua dari pasangan Udin, 32 dan Endah, 38 berasal dari Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

Dokter Irfanugraha Triputra selaku ketua tim penanganan keluhan menuturkan jika Raya datang di IGD RSUD R. Syamsudin SH pada 13 Juli 2025 sekitar pukul 20.00 WIB dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Dia dibawa menggunakan ambulans oleh tim relawan Rumah Teduh.

“Menurut pihak keluarga, sehari sebelumnya Raya hanya mengalami gejala demam, batuk, dan pilek,” ujar dr Irfanugraha dikonfirmasi pada Selasa (19/8).

Dokter menduga ketidaksadaran Raya disebabkan oleh meningitis TB atau komplikasi dari TBC paru, praduga tersebut diperkuat oleh keadaan orang tua raya yang menjalani pengobatan TBC.

Namun, kondisi Raya baru terungkap ketika cacing terlihat keluar dari hidung selama observasi di IGD yang menandakan infeksi sudah terlambat untuk ditangani.

"Kemungkinan tidak sadarnya ada dua, antara faktor TBC atau karena infeksi cacing," tutur dr. Irfan.

Selain tidak sadarkan diri, kondisi vital balita berumur 3 tahun tersebut tidak stabil terutama tekanan darahnya.

Dokter Irfan juga mengatakan jika kondisi Raya sudah terlambat untuk ditangani,

"Ini cenderung terlambat. Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar." Ujar dr.Irfan.

Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land yang membantu kondisi Raya mengatakan jika mengalami kesulitan karena adanya hambatan briokrasi dan identitas yang membuat perawatan Raya gagal ditanggung Pemerintah.

Sedangkan pihak rumah sakit telah memberikan kesempatan 3x24 jam untuk mengurus BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran).

Pendiri yayasan tersebut juga menjelaskan bahwasanya kedua orang tua Raya mengalami gangguan mental.

"Kita langsung ke Disdukcapil, diarahkan ke Dinas Sosial karena orang tuanya ada keterbelakangan mental. Dari sana diarahkan ke Dinas Kesehatan, dan akhirnya Dinas Kesehatan angkat tangan," jelasnya.

Lin Achsien juga menambahkan, "Waktunya sudah habis 3 hari berturut-turut, tidak ada tanggapan apapun."

Hambatan tersebut membuat pihak yayasan rumah teduh mengalihkan perawatan Raya menjadi tunai dan ditanggung oleh Rumah Teduh sebesar 23 juta lebih yang akhirnya mendapatkan diskon dan sisa tagihan dibebaskan setelah pembayaran di awal.

Endah selaku ibu Raya menerangkan jika kondisi Raya sudah sangat lama mengkhawatirkan, akan tetapi Raya tidak pernah berobat ke rumah sakit maupun puskesmas.

Setiap harinya, dia harus menyaksikan anaknya yang kesulitan bernafas, namun ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Belum pernah ke rumah sakit, belum pernah ke puskesmas. Biasanya saya hanya memandikannya dengan air hangat dan daun singkong. Iya, secara tradisional,” ungkap Endah.

Endah tidak tahu pasti penyebab cacing bersarang dalam tubuh anaknya. Apakah dari makanan atau faktor lain.

Endah juga menegaskan bahwa mereka tidak memelihara hewan peliharaan di rumah, bahkan ayam sekali pun.

Ibu dari balita perempuan tersebut juga menyebutkan jika Raya senang sekali bermain di tanah, "Sebelumnya dia suka main di tanah, makanya didudukkan saja di bawah" tutur Endah.

Mereka tidak menyadari bahwa kebiasaan Raya bermain di tanah justru menjadi salah satu faktor risiko. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#balita #tbc #hambatan birkorasi #sukabumi #infeksi cacing #Raya