RADARTUBAN– Dua dekade lebih berlalu sejak badai Krisis Moneter 1997/1998 menghantam Asia, nilai tukar rupiah dan mata uang negara-negara ASEAN kini menunjukkan cerita yang berbeda.
Data terbaru hingga 2025 dilansir dari CNBC Indonesia memperlihatkan siapa yang terpuruk, siapa yang bertahan, dan siapa yang justru makin kuat menghadapi dolar AS.
Pada puncak krisis 1998, rupiah ambruk dari Rp 2.500 menjadi Rp 16.900 per dolar AS. Tahun 1998 ditutup dengan kurs rata-rata Rp 6.000/US$, dan kini pada 2025, posisi rupiah berada di sekitar Rp 16.280/US$.
Artinya, dalam 27 tahun terakhir, rupiah masih belum mampu kembali ke level pra-krisis, meski berbagai kebijakan moneter ketat dan stabilisasi fiskal terus ditempuh Bank Indonesia.
Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah. Dong Vietnam melemah dari 12.291/US$ (1998) menjadi 26.245/US$ (2025).
Begitu pula Peso Filipina, yang terdepresiasi dari 40,80/US$ menjadi 56,88/US$.
Keduanya menunjukkan betapa negara berkembang dengan ketergantungan besar pada impor rentan terhadap gejolak global.
Ringgit Malaysia juga tercatat melemah, meski relatif tipis: dari 3,97/US$ pada 1998 menjadi 4,22/US$ di 2025.
Stabilitas ekonomi domestik dan cadangan devisa yang lebih baik membuat ringgit tidak jatuh sedalam rupiah.
Kejutan justru datang dari Baht Thailand dan Dolar Singapura. Baht terapresiasi signifikan, dari 47,90/US$ menjadi 32,39/US$ (naik 32,38 persen).
Dolar Singapura bahkan semakin kokoh, dari 1,69/US$ menjadi 1,28/US$ (menguat 24,25 persen).
Kedua negara ini menunjukkan konsistensi dalam menjaga fundamental ekonomi, stabilitas politik, serta strategi perdagangan yang lebih kompetitif di kancah global.
Perjalanan panjang sejak krisis 1998 mengajarkan bahwa stabilitas politik, disiplin fiskal, dan daya saing ekspor menjadi kunci utama menjaga mata uang.
Negara yang mampu menjaga kepercayaan pasar global terbukti mampu bertahan bahkan menguat, sementara yang rapuh justru semakin terpuruk.
Dengan tren global yang penuh ketidakpastian—mulai dari geopolitik, krisis energi, hingga perubahan iklim—ketahanan mata uang ASEAN akan kembali diuji.
Pertanyaan besarnya, mampukah rupiah keluar dari bayang-bayang krisis 1998 dan kembali stabil seperti tetangga terdekatnya? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni