RADARTUBAN - Di awal 2010-an, Swedia memperkenalkan istilah yang belakangan mulai merembes ke berbagai belahan dunia: Latte Dad.
Bukan karena ayah-ayah di sana mendadak jadi barista, tapi karena ada perubahan besar dalam cara mereka menjalani peran sebagai orang tua.
Satu tangan memegang gelas kopi latte, tangan lain menggandeng anak kecil.
Simbol sederhana, tapi maknanya dalam: ayah kini bukan hanya pencari nafkah, tapi juga pendamping tumbuh kembang anak.
Fenomena ini muncul seiring dengan kebijakan parental leave yang lebih adil di negara-negara Nordik.
Di Swedia, misalnya, ayah punya hak cuti mengasuh anak yang cukup panjang, dan itu bukan hal yang tabu.
Justru dianggap keren kalau seorang ayah terlihat di taman bermain, di perpustakaan anak, atau di kafe sambil menyuapi si kecil. Kopi latte jadi semacam ikon gaya hidup ayah modern yang multitasking, hadir, dan nggak gengsi mengurus anak.
Di Indonesia, konsep Latte Dad mungkin masih terdengar asing. Tapi pelan-pelan, kita mulai melihat pergeseran.
Ayah-ayah muda mulai ikut ke posyandu, ikut antar anak ke sekolah, bahkan ikut diskusi parenting di grup WhatsApp. Meski belum semasif di Swedia, tanda-tandanya sudah ada. Dan itu patut dirayakan.
Karena selama ini, peran ayah sering kali dikerdilkan jadi “yang kerja di luar.” Urusan anak dianggap wilayah ibu.
Padahal, anak butuh dua figur: yang memberi rasa aman dan yang memberi ruang eksplorasi.
Dan ayah punya peran penting di sana. Ketika ayah hadir sejak dini, anak belajar tentang kepercayaan, tentang komunikasi, dan tentang bagaimana dunia bekerja dari sudut pandang yang berbeda.
Menjadi Latte Dad bukan soal gaya hidup, tapi soal kesadaran. Bahwa mengasuh anak bukan tugas tambahan, tapi bagian dari identitas sebagai orang tua.
Bahwa mengganti popok, menyuapi, dan menemani anak tidur bukan hal yang “bukan kerjaan laki-laki,” tapi kerjaan manusia dewasa yang bertanggung jawab.
Tentu, tidak semua ayah punya privilege waktu dan fleksibilitas kerja. Tapi Latte Dad bukan soal seberapa sering hadir, melainkan seberapa sadar akan peran.
Bahkan jika hanya punya waktu malam hari, ayah tetap bisa jadi pendamping yang hangat. Bisa jadi tempat cerita, tempat bertanya, dan tempat belajar tentang dunia.
Fenomena Latte Dad mengajak kita melihat ulang definisi maskulinitas. Bahwa menjadi laki-laki bukan berarti harus selalu kuat dan jauh dari urusan domestik.
Justru, laki-laki yang mau hadir, mau belajar, dan mau terlibat adalah bentuk kekuatan yang paling nyata.
Jadi kalau kamu melihat seorang ayah di taman, satu tangan menggandeng anak, satu tangan memegang kopi latte, jangan buru-buru bilang “bapak-bapak gaya.”
Bisa jadi, dia sedang menjalani peran paling penting dalam hidupnya—sebagai ayah yang hadir, bukan hanya ayah yang memberi uang jajan.
Dan kalau kamu sendiri adalah ayah, atau calon ayah, mungkin sudah saatnya menggandeng tangan si kecil. Karena menjadi Latte Dad bukan soal tren, tapi soal cinta yang hadir sejak dini. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama