Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sindrom Peter Pan, Saat Dewasa Hanya Secara Usia tapi Sikap Masih Kekanak-kanakan dan Enggan Hadapi Tanggung Jawab

M. Afiqul Adib • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 02:05 WIB
Animasi Pater Pan
Animasi Pater Pan

RADARTUBAN- Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sindrom Peter Pan adalah kondisi pada orang dewasa yang secara sosial tidak menunjukkan kematangan atau kedewasaan.

Tapi di luar definisi formal, sindrom ini sering muncul dalam bentuk yang lebih subtil: orang-orang yang menolak tumbuh, bukan karena tak bisa, tapi karena tak mau.

Mereka ada di mana-mana. Di grup WhatsApp keluarga, masih suka kirim stiker “minta jajan” padahal sudah punya anak dua.

Di kantor, selalu menghindar dari tanggung jawab dengan alasan “aku tuh nggak cocok jadi pemimpin.” Di hubungan asmara, bilang “aku belum siap nikah” sambil tetap minta dibawakan makan siang tiap hari.

Sindrom Peter Pan bukan soal usia, tapi soal sikap. Ia menjangkiti mereka yang secara biologis dewasa, tapi secara emosional masih ingin jadi anak-anak.

Bukan karena lucu, tapi karena nyaman. Tanggung jawab dianggap beban, komitmen dianggap jebakan, dan kedewasaan dianggap kutukan.

Tentu, menjadi dewasa memang tidak selalu menyenangkan. Ada tagihan, ada deadline, ada drama birokrasi.

Tapi menjadi dewasa juga berarti punya kendali atas hidup sendiri. Bisa memilih, bisa memutuskan, bisa bertanggung jawab.

Ironisnya, mereka yang terkena sindrom Peter Pan justru menolak semua itu. Mereka ingin kebebasan, tapi tanpa konsekuensi. Ingin dicintai, tapi tanpa komitmen. Ingin dihormati, tapi tanpa usaha.

Di media sosial, sindrom ini kadang dikemas sebagai “inner child” atau “healing.”

Padahal, yang terjadi bukan penyembuhan, tapi pelarian. Mereka bilang “aku cuma ingin jadi diri sendiri,” tapi diri sendiri yang dimaksud adalah versi 17 tahun yang belum pernah bayar pajak dan masih minta pulsa ke orang tua.

Fenomena ini bukan sekadar lucu-lucuan. Ia punya dampak sosial. Ketika banyak orang dewasa menolak bertumbuh, maka beban kedewasaan jatuh ke mereka yang terpaksa dewasa lebih cepat.

Anak sulung yang harus jadi orang tua kedua. Pasangan yang harus jadi pengasuh emosional. Teman kerja yang harus menambal tanggung jawab yang ditinggal.

Tentu, tidak semua bentuk ketidakdewasaan adalah sindrom. Kadang kita memang butuh ruang untuk bermain, tertawa, dan tidak serius. Tapi beda antara sesekali bersikap kekanak-kanakan dan menjadikan kekanak-kanakan sebagai identitas.

Jadi, kalau kamu merasa sering menghindar dari tanggung jawab, takut komitmen, dan lebih suka hidup dalam nostalgia masa kecil, mungkin saatnya bertanya: apakah ini kenyamanan, atau pelarian?

Karena tumbuh dewasa bukan soal kehilangan keceriaan, tapi soal belajar menyeimbangkan antara bermain dan bertanggung jawab. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kedewasaan #kematangan #menolak tanggung jawab #Sindrom Pater Pan #anak-anak