RADARTUBAN - Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap judi online yang semakin marak di era digital.
Ia menekankan bahwa meskipun penetrasi internet di Jawa Timur telah mencapai 82,19 persen, perkembangan tersebut juga membawa potensi risiko besar yang harus diantisipasi.
Sherlita menjelaskan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mencatat kenaikan penetrasi internet di Jawa Timur, dari 81,79 persen pada 2024 menjadi 82,19 persen tahun ini.
Menurutnya, peningkatan ini memiliki dua sisi: membawa manfaat, tetapi sekaligus membuka peluang ancaman siber yang lebih kompleks.
“Internet ini seperti dua sisi mata uang, ada positifnya dan ada negatifnya. Yang penting adalah mitigasi bagaimana kita mengenali ancaman dan tahu langkah apa yang harus diambil ketika ancaman itu benar-benar terjadi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sherlita menegaskan bahwa penguatan infrastruktur digital saja tidak cukup. Menurutnya, kunci utama menghadapi ancaman siber ada pada kualitas SDM digital.
“Dari sistem infrastruktur sampai teknologi bisa diperkokoh, tetapi titik paling lemah justru ada pada SDM. Inilah yang menjadi perhatian utama. Generasi kita tidak boleh hanya menjadi objek, melainkan harus bisa memanfaatkan dunia maya untuk hal-hal positif,” tegasnya.
Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Sherlita resmi membuka kegiatan tersebut dan berharap para peserta dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan ruang siber.
Dalam kesempatan yang sama, pakar teknologi informasi Onno W. Purbo turut mengingatkan bahaya judi online.
Ia menyebut praktik ilegal ini bisa menimbulkan kerugian ekonomi mencapai Rp300 triliun per tahun, sebagian besar dana mengalir ke luar negeri.
“Nilainya mungkin terlihat kecil, Rp20.000–Rp50.000 per orang. Tapi jika ada jutaan orang yang bermain, uang Indonesia yang hilang luar biasa besar,” ungkap Onno.
Selain judi online, ia juga menyoroti bentuk kejahatan digital lain, seperti penipuan aplikasi, serangan Remote Access Trojan (RAT), hingga rekayasa file APK yang dapat meretas perangkat ponsel korban.
Onno menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam melindungi diri dari ancaman siber.
Ia menyebutkan tanda-tanda perangkat terinfeksi, seperti baterai cepat habis, ponsel menjadi panas, hingga lampu indikator data aktif meski tidak digunakan.
“Tidak ada sistem yang sepenuhnya aman. Yang paling penting adalah kesadaran pengguna. Jangan asal klik, jangan masuk situs mencurigakan, dan biasakan enkripsi end-to-end,” pesannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni