RADARTUBAN – Beauty influencer ternama Tasya Farasya baru-baru ini membagikan pengalamannya menjalani terapi untuk mengatasi insomnia.
Selama beberapa waktu terakhir, Tasya mengaku kesulitan tidur hingga berdampak buruk pada pola istirahat dan aktivitas sehari-harinya.
Cerita pribadi Tasya ini sontak menjadi sorotan publik. Banyak warganet yang membanjiri kolom komentar dengan doa dan dukungan.
Mereka berharap Tasya bisa segera pulih dan kembali sehat. Namun, di sisi lain, tak sedikit pula komentar bernada miring yang menyoroti gaya hidup maupun masalah pribadi Tasya.
Dilansir dari Jawapos.com, beberapa netizen bahkan mengaitkan kondisi insomnia Tasya dengan hubungannya bersama sang saudari kembar, Tasyi Athasyia, yang sempat dikabarkan kurang harmonis.
“Lebih baik segera meminta maaf kepada saudara kembarmu sebelum terlambat,” tulis salah satu warganet.
Meski begitu, sebagian besar penggemar justru menilai bahwa insomnia merupakan kondisi umum yang bisa dialami siapa saja.
Faktor penyebabnya pun beragam, mulai dari beban pikiran, tekanan pekerjaan, hingga pola hidup yang tidak seimbang.
Sebagai figur publik yang memiliki jutaan pengikut di media sosial, Tasya menganggap penting untuk membagikan kondisi kesehatannya.
Ia berharap pengalamannya bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah isu serius yang patut diperhatikan.
“Kalau aku share ini, tujuannya supaya orang-orang tahu bahwa semua orang bisa ngalamin. Jangan sampai kita ngerasa sendirian,” ungkap Tasya dalam unggahannya.
Fenomena insomnia yang dialami selebritas seperti Tasya Farasya sebenarnya bukan hal baru.
Rutinitas padat, ekspektasi tinggi dari publik, serta tuntutan pekerjaan sering kali memengaruhi kualitas tidur.
Akibatnya, para publik figur rawan mengalami gangguan kesehatan mental maupun fisik.
Kasus yang dialami Tasya menjadi cerminan bahwa di balik gemerlap dunia hiburan dan media sosial, para influencer pun tetap manusia biasa yang bisa mengalami tekanan, rasa lelah, hingga kesulitan tidur.
Dukungan dan empati dari publik tentu menjadi hal penting dalam proses pemulihan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni