RADARTUBAN- Baru saja kita memperingati 17 Agustus. Di berbagai penjuru negeri, upacara kemerdekaan digelar dengan khidmat.
Lagu Indonesia Raya berkumandang, bendera merah putih dikibarkan, dan pidato-pidato dibacakan dengan semangat nasionalisme. Tapi setelah itu, semua kembali seperti biasa.
Senin berikutnya, anak-anak sekolah kembali berdiri di lapangan, mengikuti upacara bendera mingguan. Pertanyaannya: apakah mereka masih merasakan makna yang sama?
Upacara bendera setiap Senin sudah jadi tradisi di sekolah-sekolah Indonesia. Sejak SD sampai SMA, kita diajarkan bahwa ini adalah bentuk penghormatan terhadap negara, terhadap simbol-simbol kebangsaan.
Tapi seiring waktu, tradisi ini mulai terasa seperti formalitas kosong. Anak-anak berdiri karena harus, bukan karena paham.
Lagu dinyanyikan setengah hati, teks Pancasila dibaca sambil mengantuk, dan pidato pembina upacara kadang lebih mirip pengumuman jadwal piket daripada refleksi kebangsaan.
Padahal, upacara bendera bukan sekadar rutinitas. Ia adalah momen untuk mengingat bahwa kita hidup dalam sebuah negara yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Bahwa bendera yang dikibarkan itu bukan kain biasa, tapi simbol dari harapan, perjuangan, dan identitas bersama. Tapi sayangnya, makna itu sering kali tenggelam dalam kebosanan dan repetisi.
Bukan salah anak-anak sepenuhnya. Sistem pendidikan kita kadang terlalu sibuk mengejar kurikulum, lupa membangun kesadaran. Upacara bendera jadi kewajiban administratif, bukan ruang reflektif.
Bahkan guru pun kadang ikut merasa jenuh. “Yang penting jalan,” katanya. Padahal, kalau makna tidak ditanamkan, tradisi hanya akan jadi rutinitas yang hampa.
Ironisnya, saat 17 Agustus tiba, kita mendadak khidmat. Semua mendadak nasionalis.
Tapi kenapa semangat itu tidak bisa dijaga setiap minggu? Kenapa hanya muncul saat ada seremoni besar?
Mungkin kita perlu memikirkan ulang cara kita menjalankan upacara. Bukan soal format, tapi soal isi. Mungkin pidato pembina bisa diganti dengan cerita pendek tentang perjuangan lokal.
Mungkin lagu kebangsaan bisa dinyanyikan dengan pengantar makna. Mungkin anak-anak bisa diajak berdiskusi tentang apa arti “merdeka” bagi mereka hari ini.
Karena kalau tidak, kita hanya akan terus berdiri di lapangan, menyanyikan lagu, membaca teks, lalu bubar tanpa bekas. Dan itu bukan penghormatan, itu hanya pengulangan.
Upacara bendera seharusnya jadi ruang untuk mengingat, bukan sekadar menjalankan. Ia bisa jadi momen kecil yang membentuk rasa cinta tanah air, kalau kita mau mengisinya dengan makna.
Karena bangsa yang besar bukan hanya yang punya tradisi, tapi yang tahu kenapa tradisi itu dijalankan.
Jadi, mari kita jaga upacara bendera. Bukan karena wajib, tapi karena kita tahu: berdiri di bawah bendera itu adalah bentuk kecil dari rasa memiliki. Dan rasa memiliki itu, kalau dijaga, bisa jadi kekuatan besar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni